BORNEONEWS, Sampit - Sekretaris Komisi III DPRD Kotawaringin Timur, Hero Harapanno Mandouw mengatakan, sektor pendidikan memang masih belum optimal mendapatkan porsi anggaran.
"Sekalipun sudah melebihi 20 persen dari total APBD Kotim. Namun secara nyata di lapangan, tidak menyelesaikan persoalan pendidikan," kata Hero, Rabu (2/5/2018).
Salah satu persoalan yang sangat memprihatinkan selain sarana dan prasarana, yakni persoalan gaji guru honorer sekolah. Bahkan ada yang hanya menerima Rp 300 ribu per bulan.
Hal itu, menurutnya, memang jauh dari kata layak. Kebanyakan honorer dibiayai dengan dana BOS, Dan baru menerima gaji per tiga bulan sekali.
"Persoalan itu tidak hanya kepada sekolah di perkotaan tetapi juga di pedalaman. Yang di pedalaman jauh dari perkotaan, bisa diupayakan pembayarannya melalui program pihak ketiga," saran Hero.
--page
Dia mengatakan, sejauh ini beban kerja mereka mendidik siswanya dalam satu rombongan belajar hanya dihargai dengan Rp 300 ribu - Rp 400 ribu, ini jadi bahan pemikiran pemerintah, supaya ada terobosan cerdas membiayai supaya bisa menopang kebutuhan hidup para tenaga honorer sekolah tersebut.
Dia mengatakan, salah satu solusinya itu yakni mencari sumber pendanaan lain di luar APBD Kotim.
Diakuinya, dari APBD Kotim sangat tidak mungkin untuk membayar gaji para guru honor sekolah ini. Tapi, perlu diperhatikan sektor pendidikan ini dengan maksimal. (NACO/B-11)








