BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Diringi musik adat Dayak yang disebut bagondang, dua pesilat wakil dari kedua mempelai atau pengantin, seolah bertarung dengan menggunakan senjata mandau.
Ini adalah bagian dari prosesi pernikahan adat Dayak Tomun digelar di Pangkalan Bun, Jumat (4/5/2018). Ini adalah pernikahan seorang pilot bernama Yosua Handika dengan Gita Depinta.
Gita Depinta adalah anak sulung dari pasangan Helkia Penyang dan Lely Kunta, sedangkan Yosua Handika merupakan anak dari pasangan Yudie A Yunas dan Hanny Halim.
Adegan pertarungan dilakukan untuk saling berebut pintu gerbang yang dinamai lawang skepeng atau disebut juga rumpak kutamara.
Setelah selesai melakukan adegan pertarungan, maka pintu dibuka dengan cara menebas pohon pisang yang berada di tengahnya.
--page
Prosesi penebasan pohon pisang itu mengandung arti bahwa permintaan izin dari pihak laki-laki untuk masuk ke halaman rumah mempelai perempuan sudah resmi diterima.
Satu per satu keluarga mempelai laki-laki masuk melewati lawang skepeng tersebut. Setelah melawati pintu itu, akhirnya sudah tidak bisa dibedakan mana keluarga pihak laki laki dan mana keluarga mempelai perempuan. Karena mereka sudah sepakat dengan warna baju yang sama yakni merah.
Lawang skepeng yang dibuat selayaknya pintu gerbang masuk itu terdapat tali panghalang. Di tengahnya terdapat pohon pisang yang dilengkapi dengan tanduk kerbau. Tanduk itu digunakan sebagai tempat minuman adat.
Tari penyambutan yang diperankan kelompok Sanggar Tari Gema Samantau pun mengantarkan keluarga laki-laki sampai di depan pintu gerbang tersebut.
Tentang tari penyambutan, menurut guru Sanggar Tari Gema Semantau, bukanlah tari asli dari Budaya Dayak. Namun sudah dimodifikasi dengan tari modern.
--page
‘’Sebetulnya ada pakem tari Dayak, namun selama ini belum digali," ujarnya. (MASROHAN/B-3)








