PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Balai Bahasa Kalimantan Tengah, Haruddin mengatakan, sinetron dan film saat ini banyak yang tidak bermanfaat. Demikian disampaikannya usai mengikuti forum implementasi penyerapan kearifan budaya lokal, yang diselenggarakan Lembaga Sensor Film baru-baru ini.

"Banyak hiburan yang dituangkan ke layar perfilman tidak memiliki makna berarti bagi masyarakat. Bisa dibayangkan judul sinetron seperti Suamiku Terpikat Daun Muda, Suamiku tak Bisa Melupakan Mantannya, atau judul misalnya Apakah Salah Aku Mencintai Suami Orang Lain? Nah, film-film seperti ini tidak ada manfaatnya," tegas Haruddin, Sabtu (5/5/2018).

Lain halnya, lanjut Haruddin, jika yang diangkat ke dalam film adalah kekayaan adat dan budaya suatu daerah, Kalteng misalnya. Seperti, eksplor sumber daya alam yang 30 sampai 40 tahun mendatang bisa saja akan habis, hal-hal seperti ini yang menurutnya berguna.

"Kearifan budaya suatu daerah itu sejatinya merupakan deposit yang abadi. Hanya saja bagaimana upaya mengangkat dan melestarikannya. Salah satunya adalah memuatnya ke dalam sebuah film, baik untuk televisi maupun layar lebar," kata Haruddin.

"Tidak ada salahnya bila kemajuan globalisasi saat ini diajak untuk berdamai, terutama dalam memanfaatkan kemajuan globalisasi itu bagi penyerapan kearifan budaya lokal," imbuhnya.

--page

Haruddin mengatakan, sangat disayangkan apabila kearifan budaya lokal di Kalteng tidak dapat dieksplor sebagai azas manfaat.

"Saya rasa Kalteng memang memiliki sumber atau deposit kearifan lokal yang bisa diangkat dalam industri perfilman dan layar lebar. Upaya mengeksplor kearifan budaya tidak ada salahnya, terlebih bila dieksplor terus menerus maka akan lebih bermanfaat. Di sisi lain kearifan budaya lokal yang mengandung nilai-nilai budaya akan menjadi abadi," pungkas dia. (TESTI PRISCILLA/B-11)