BORNEONEWS, Palangka Raya - Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Palangka Raya berakibat pada berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya transportasi masyarakat yang terganggu tetapi juga dunia pendidikan. Seperti yang terjadi di Kelurahan Bereng Bengkel, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya, akibat banjir anak yang ingin ke sekolah harus keluarkan uang tambahan untuk membayar feri penyeberangan.
Maklum, akses jalan darat menuju dan keluar dari pemukiman warga di sana terputus oleh banjir sepanjang 1,5 kilometer. Akibatnya masyarakat yang mau melintas terpaksa harus menggunakan transportasi air, yakni kelotok atau feri.
"Iya, sekolahnya naik feri. Bayarnya Rp15.000 sekali naik," kata Nabila, salah seorang warga Bereng Bengkel yang masih berstatus SMP, Senin (7/5/2018).
Ditanyai terkait mahalnya tarif yang harus dia bayarkan untuk berangkat ke sekolah, Nabila mengaku tidak masalah.
"Rp15.000 itu untuk sekali naik feri jadi supaya murah biasanya kami dengan teman-teman saling menunggu, berangkat sama-sama supaya bayarnya juga sama-sama. Jadi lebih ringan bayarnya," jelas Nabila.
Menurutnya, untuk sekali jalan dirinya bersama pengemudi perahu penyeberangan lainnya menetapkan tarif Rp15.000 sekali jalan, berapapun penumpangnya.
Hal ini dibenarkan Pajai, salah seorang pengemudi feri kelotok yang membawa wartawan borneonews.co.id ke lokasi banjir. Menurutnya memang tarif Rp15.000 itu untuk sekali jalan, bukan per orang atau per motor misalnya.
"Karena kalau yang naik satu orang saja misalnya rugi kita di minyak. Tapi kalau banyak yang naik ya tidak apa-apa, tetap segitu tarifnya karena kan yang kita hitung jaraknya," jelas Pajai. (TESTI PRISCILLA/B-5)








