PURUK CAHU –

BORNEONEWS, Puruk Cahu - Saat ini kemorosotan ekonomi tengah dialami sebagian besar warga pedalaman Kabupaten Murung Raya (Mura) seperti di Sungai Laung pascaharga hasil perkebunan seperti karet terus anjlok.

Namun bagi masyarakat pedalaman Sungai Laung tepatnya di Kecamatan Laung Tuhup, kondisi keterpurukan ekonomi tidak lantas membuat mereka menyerah dan berpangku tangan.

Karena masyarakat Sungai Laung, seperti masyarakat Desa Dirung Pinang mencoba mencari penghasilan baru untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, misalnya dengan mengumpulkan rotan untuk dijual dan menutupi minimnya penghasilan dari menjual karet.

Sekretaris Desa (Sekda) Dirung Pindang, Ahmad Jaya menyebutkan, pascaanjloknya harga karet ekonomi di sini juga lesu.

Karena selama ini sebagian besar masyarakat bertumpu kepada hasil karet, atau rata rata berporfesi sebagai penyadap karet. Dan ketika harga karet anjlok tentu membuat masyarakat ksulitan memenuhi kebutuhan hidup.

--page

“Saat ini harga karet di Dirung Pinang hanya Rp5.500 per kilogram, tentu harga itu sangat tidak memenuhi harapan, namun untuk mensiasatinya, banyak warga beralih sementara ke komoditas rotan,” tuturnya.

Apalagi Desa Dirung Pinang  berada di bantaran Sungai Laung, sehingga untuk ditribusi hasil panen rotan mudah dilakukan melalui jalur sungai.

Karena di wilayah desanya, banyak rotan yang selama ini tidak dimanfaatkan namun memiliki  nilai ekonomis, dan saat ini rotan dipanen untuk dijual.

Harga jual rotan selama ini berkisar Rp120 ribu per 100 kilogram, dan harga jual tersebut lumayan bagi, sehingga tidak sedikit masyarakat yang beralih profesi atau nyambi untuk mencari rotan dan dijual, selain menyadap karet.

“Ya saat ini masyarakat harus pintar-pintar meliihat potensi usaha, kalau karet harganya anjlok, ya sementara nyambi mencari rotan untuk dijual, dan hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari,” tuturnya.

--page

Namun tentu kondisi demikian bukanlah hal yang diharapkan, dan masyarakat tuturnya tetap berharap agar harga karet kembali normal kembali, selain itu semakin banyak lapangan pekrjaan khususnya di dunia investasi.

Sehingga masyarakat tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, namun juga bisa lebih sejahtera dan berkecukupa.

“Kami tetap berharap harga karet naik, termasuk juga investor mau menerima kami masyarakat lokal untuk bekerja agar kami bisa meningkatkan taraf hidup,” tuturnya. (TRISNO/B-5)