BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kinerja emiten perkebunan kurang memuaskan sepanjang kuartal pertama tahun ini, terlihat penurunan laba bersih dan hasil laporan keuangan yang masih memperlihatkan kerugian.
Emiten-emiten sekelas PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) dan PT Eagles High Plantations Tbk (BWPT) turut merugi. Bahkan kerugian membengkak masing-masing sebesar 371,60% dan 47,65% pada kuartal I tahun ini akibat menurunnya harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
"Penurunan volume ekspor CPO nasional mencapai 50,3% atau sebesar 90.990 ton. Ini tentu memberikan dampak pelemahan pada emiten di sektor perkebunan," kata analis Paramitha Alfa Sekuritas, William Siregar, dalam risetnya pekan ini.
Penurunan ekspor dipengaruhi dua faktor eksternal, yaitu kenaikan tarif impor CPO di India dan aksi black campaign terhadap CPO oleh Uni Eropa.
Walaupun demikian, William tetap optimistis terhadap kinerja emiten produsen CPO. Ia memprediksi, harga CPO kelak akan kembali membaik, sebab tingkat konsumsi masyarakat terhadap lemak nabati yang berbahan baku kelapa sawit masih tinggi.
--page
"Mengenai hasil kurang memuaskan yang ditorehkan dua emiten itu di sepanjang kuartal pertama ini, investor untuk sementara waktu bisa beralih pada saham yang lebih potensial. PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) sebagai salah satu rekomendasi," papar dia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








