BORNEONEWS, Sampit- Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur Muhammad Shaleh, merasa prihatin terhadap minimnya kesadaran masyarakat dan pihak terkait lainnya dalam menjaga dan merawat jalan di dalam Kota Sampit.
"Salah satu yang kita lihat selama ini angkutan berat yang masuk dalam kawasan perkotaan bertonase besar dan tidak terkendali. Sejumlah ruas jalan dalam kota dan bundaran hanya berumur pendek akibat angkutan itu," kata Shaleh, Kamis (10/5/2018).
Menurut dia, kualitas jalan di Sampit masih dibatas angka muatan sumbu terberat yakni 8 ton. Jika angkutan yang melintas berbobot melebihi angka itu, tentunya membuat jalan cepat rusak.
Tentunya, kata dia, DPRD tidak ingin umur jalan jadi pendek. Sebab konsekuensinya anggaran akan terkuras untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur saja.
Politisi PAN itu melanjutkan, agar kondisi jalan bertahan lama mesti banyak hal yang harus dipahami. Jangan hanya memikirkan kepentingan pribadi sendiri. Sebab masyarakat yang jadi korban karena sektor lain masih memerlukan anggaran untuk pembangunan.
--page
Disampaikannya pula jalan lingkar selatan sudah dibangun. Dengan adanya jalan tersebut tentunya sudah ada rute pengalihan bagi kendaraan bertonase besar. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi angkutan berat dan truk CPO masuk ke jalur dalam Kota.
Sejauh ini, katanya, penyebab angkutan berat masuk dalam kota karena tidak ada jalan lain lagi yang bisa dilewati. Pola ini yang harus segera diubah. (NACO/B-3)








