BORNEONEWS, Sampit - Pasca terjadinya bentrok antara aparat kepolisian dan napi terorisme di Markas Komando Brimob Kelapa Dua membuat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Sampit memperkuat dan memperketat pengamanan.
Apalagi di Sampit, kondisi bangunan di lapas sudah rapuh dan keberadaan napi yang melebihi kapasitas itu tidak menutup kemungkinan ada aksi itu terjadi.
Kepala Lapas Klas IIB Sampit, M Khaeron menegaskan bahwa pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan komunikasi dengan pihak terkait.
Seperti dengan jajaran Polres Kotim dalam rangka mengantisipasi hal yang tidak diinginkan tersebut. Selain itu ketika ada persoalan juga pihaknya lebih mengedapankan upaya persuasif baik itu dengan perorangan maupun kelompok yang ada di setiap blok Lapas Sampit.
"Memang kondisi lapas tidak menutup kemungkinan masih banyak oknum yang berupaya menunggangi, hingga aturan sampai ingin kabur," kata Khaeron, Jumat (11/5/2018).
--page
Lanjut Khaeron dari sisi keamanan pihaknya mendapatkan tambahan pengamanan, ada sekitar 35 tenaga dari CPNS tahun 2018 yang ditugaskan di Lapas Sampit.
Selain itu koordinasi terus dilakukan dengan Polsek dan Polres. Kemudian dengan mengedepankan budaya yang baik tanpa adanya kekerasan.
"Selain dengan sistem pengamanan yang ketat, ternyata warga binaan Lapas Sampit mayoritas patuh dan taat kepada aturan Lapas. Sekalipun napi itu beragam kasus yang didominasi kasus tindak pidana narkotika, pencurian, dan lain sebagainya mereka tetap taat aturan," pungkasnya.
Saat ini ada sekitar 657 penghuni Lapas Sampit itu terdiri dari tahanan dan napi. Jumlah warga binaan yang membludak ini lantaran menampung para warga yang berkasu dari dua kabupaten Kotim dan Seruyan. (NACO/B-5)








