SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Petani di Desa Parebok terpaksa gigit jari. Pasalnya, sawah mereka gagal panen. Bahkan hampir 50% sawah yang ditanami mengalami kerusakan setelah terserang penyakit kuning. 

"Gagal panen hingga 50% di desa kami. Ini merupakan yang terbesar dari tahun-tahun sebelumnya. Sangat merugikan," kata Kepala Desa Parebok, Agus Salim, Minggu (13/5/2018). 

Rinciannya, ada sekitar 1.000 hektare dari 1.300 hektare lahan yang tersedia dan ditanami padi. Namun 50% dari lahan yang ditanami, dilanda penyakit kuning.

Petani pun masih kebingungan terkait penyebab munculnya penyakit langka tersebut. Padahal, mereka sudah berupaya memupuk ataupun menyemprotkan obat. Tetapi tidak ada pengaruhnya. 

"Kami disini bingung, mau dikasih obat jenis apa. Karena sejumlah obat yang kami coba tidak berpengaruh sama sekali. Tetap saja penyakit tersebut muncul," kata Agus. 

--page

Imbasnya, pendapatan petani pun menurun drastis. Bahkan yang sebelumnya dalam satu hektare sawah bisa menghasilkan tiga ton gabah, namun saat ini untuk satu ton saja sangat susah. 

Menanggapi kegagalan petani tersebut, Anggota Komisi VI DPR-RI Hamdhani mengungkapkan, pertanian di daerah tersebut membutuhkan penyuluh lapangan yang lebih maksimal lagi. Bahkan harus ditambah. agar petani mendapat pengetahuan cara menangani penyakit yang menyerang padi.

"Harus ada terobosan dari pemerintah. Penyakit kuning yang dianggap sangat merusak padi tersebut akan kami perhatikan lagi obat atau pupuk apa saja untuk menghindari penyakit tersebut," kata Hamdhani.

Dia menambahkan, penyakit kuning tersebut sangat langka, namun sangat merusak padi. Bahkan dalam tiga pekan saja tanaman padi sudah mulai menguning.

Hamdhani, mengingatkan petani juga harus merawat sawah dengan baik. Jangan hanya bisa menanam dan memanen saja. Perawatan benar akan menghasilkan padi yang berkualitas. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)