SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Legislator asal Kalimantan Tengah (Kalteng) yakni Anggota Komisi VI DPR-RI Hamdhani mengungkapkan, kampanye hitam tentang kelapa sawit harus ditentang dan dinetralisasi. Terutama kampanye yang menyudutkan industri kelapa sawit di Indonesia hingga berdampak pada penolakan di Uni Eropa (UE) terhadap ekspor dari Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye hitam menyudutkan industri kelapa sawit di Indonesia sehingga menuai penolakan di Uni Eropa (UE) terhadap ekspor hasil kelapa sawit dan turunannya dari Indonesia.

"Itulah yang menjadi perhatian kami sehingga  kampanye hitam kelapa sawit harus dinetralisasi," ujar Hamdhani, Minggu (13/5/2018).

Dirinya mengungkapkan, di Kalteng termasuk salah satu provinsi yang memiliki banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sehingga bila dibiarkan dengan kampanye tersebut, hingga merusak ekspor, akan dapat mengganggu perekonomian Kalteng.

“Kampanye hitam perlu dinetralisasi sehingga pasar berjalan secara fair. Karena pangsa pasar hasil perkebunan sawit dan turunannya ke Eropa sangat besar, selain ke Cina dan Timur Tengah,” ungkap Hamdhani.

--page

Hamdhani juga menyampaikan, beberapa waktu yang lalu pihaknya terbang ke Eropa, tepatnya ke Republik Ceko. Di sana mereka bertemu dengan salah seorang anggota parlemen negara anggota Uni Eropa yaitu Stephan Mayer, yang merupakan  anggota parlemen partai pendukung pemerintah  di Jerman.

Ia berbincang dan menyampaikan bahwa banyak isu negatif yang dihembuskan sehingga produk kelapa sawit dari Indonesia banyak ditolak di Eropa. Isu tersebut antara masalah deforestasi, kemudian isu mempekerjakan anak, dan perusakan lingkungan.

Sehingga dirinya menegaskan bahwa isu-isu tersebut tidak benar. Tidak ada deforestasi dalam pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Izin untuk perkebunan kelapa sawit semuanya jelas dan legal dari pemerintah.

“Untuk anak kecil di perkebunan kelapa sawit, itu sebenarnya anak-anak itu ikut orang tuanya dan tidak bekerja. Hal ini yang kita sampaikan, untuk menangkal kampanye hitam masalah sawit tersebut,” kata Hamdhani.

Sebab itu, Hamdhani menyesalkan penolakan produk sawit Indonesia dan turunannya di Eropa. Menurutnya, sebagian  besar negara-negara Eropa itu hanya mendengar informasi sepihak dari beberapa NGO (non government organization) dan langsung percaya begitu saja.

“Kalau diperlakukan seperti ini, Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Seperti tidak membeli produk Uni Eropa seperti pesawat Airbus dan juga produk otomotif alat berat,” jelasnya.

--page

Hamdhani menduga, kampanye negatif tentang kelapa sawit ini merupakan bagian dari persaingan usaha. Sementara di sisi lain, industri kelapa sawit ini cukup banyak meyerap tenaga kerja dan sangat menguntungkan. (MUHAMMAD HAMIM/B-2)