BORNEONEWS, Sampit - Tanaman kelapa sawit mulai menggeser budidaya kelapa dalam di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Padahal kawasan itu sudah ditetapkan pemerintah daerah sebagai lumbung pertanian dan perkebunan.
Penyebabnya, saat ini perkebunan kelapa sawit dianggap sangat potensial dan dapat meningkatkan perekonomian petani. Dibandingkan kelapa dalam yang harga jualnya kian menyusut.
Untuk harga kelapa dalam yang tua saat ini hanya Rp 800 saja per bijinya. Padahal, tiga bulan lalu mencapai Rp 1.800 per bijinya.
"Iya sekarang sudah banyak petani kelapa dalam yang mengganti kebun mereka menjadi kelapa sawit. Itu karena harga kelapa dalam turun drastis," kata Kepala Desa Parebok Agus Salim, Senin (14/5/2018).
Penyebab lainnya, produktivitas panen kelapa juga mengakami penurunan. Biasanya dalam satu kebun yang berukuran 50 meter x 100 meter bisa memanen 3.000 biji - 3.500 biji kelapa, namun saat ini hanya 1.500 - 2.000 biji saja.
--page
"Belum lagi panen kelapa hanya bisa dilakukan tiga bulan sekali. Tentu hal itu menjadi pertimbangan sejumlah petani untuk mengubah kebun mereka menjadi perkebunan kelapa sawit," kata Agus.
Dia mengatakan, banyak petani kelapa dalam yang tergiur dengan menanam kelapa sawit karena penennya bisa dilakukan dua kali dalam sebulan. Sehingga sangat dianggap menguntungkan dari segi ekonomi.
Terkait itu, Anggota Komisi VI DPR-RI Hamdhani mengungkapkan, hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah. Jangan sampai kelapa dalam di wilayah selatan ini habis diganti perkebunan kelapa sawit. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)








