BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Emiten produsen bahan kimia dan perkebunan kelapa sawit, PT Eterindo Wahanatama Tbk. (ETWA), menargetkan proses merger dengan perusahaan mitra selesai pada kuartal III tahun ini.
"Kami membutuhkan dana investasi pengembangan sebesar Rp260 miliar. Alokasi dana sekitar Rp60 miliar digunakan untuk rehabilitasi area perkebunan yang tertanam," kata Direktur Eterindo Wahanatama, Azwar, di Jakarta, Senin (14/5/2018).
Selanjutnya, perseroan berencana menambah tanaman menghasilkan baru di lahan seluas 5.000 hektare (ha) dalam 2 tahun hingga 3 tahun ke depan, dan pada 2019 hingga 2020 mengembangkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Pembuatan PKS bertujuan mendongkrak marjin laba perusahaan.
Sampai akhir 2016, luas area tertanam ETWA mencapai 8.300 ha, dari total konsesi HGU sebesar 28.300 ha. Luasan tanaman menghasilkan mencapai 86% atau 7.100 ha, sedangkan area belum produktif sejumlah 1.200 ha.
"Dengan rehabilitasi, perkebunan kami akan semakin produktif. Total kebutuhan dana untuk pengembangan bisnis kelapa sawit sekitar Rp260 miliar dalam 2 tahun hingga 3 tahun ke depan," papar Azwar.
--page
Terkait sumber pendanaan, lanjut Azwar, tidak terlepas dari rencana ETWA melakukan merger dengan salah satu mitra. Kedua belah pihak sudah melakukan kesepakatan secara informal.
"Proses finalisasi merger dengan mitra yang bergerak di bisnis perkebunan kelapa sawit ini diharapkan rampung pada September 2018. Setelah itu, perusahaan akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk melakukan aksi korporasi," ujarnya.
Azwar menambahkan, mitra baru ETWA bukan berasal dari pemegang saham ataupun perusahaan afiliasi. Komposisi pemegang Eterindo per Maret 2018 ialah Watervale Worldwide Inc. sebesar 21,83%, Centrin Telecom Ltd. 14,25%, Hadisan Sridjaja 7,48%, Osville Energy Corporation Pte. Ltd. 6,35%, Bank of Singapore Ltd. 5,72%, Jasin Sridjaja 0,06%, dan public 44,31%.
"Setelah proses merger rampung, perusahaan dapat memacu kinerja operasional dan keuangan. Per Juni 2017, ETWA membukukan penjualan senilai Rp23,7 miliar dengan rincian produk biodiesel Rp1,44 miliar, kimia Rp17,37 miliar, dan tandan buah segar (TBS) Rp4,88 miliar," tandasnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








