BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Para eks pekerja seks ini mengaku tidak tahu akan melakoni pekerjaan apa setelah tiba di daerah asalnya.
Mereka yang berasal dari tiga lokalisasi yakni lokalisasi Sungai Pakit, lokalisasi Simpang Kodok dan lokalisasi Dukuh Mola, hanya bertekad meninggalkan profesi lamanya.
Salah satu eks pekerja seks, sebut saja Linda, merasa sudah muak dengan profesi sebelumnya sebagai pekerja seks.
"Walaupun muak, saya perlu uang. Nah dengan cara menjadi PSK (pekerja seks komersial, red) seperti inilah uang bisa saya kumpulkan dengan cepat," ujar Linda, Selasa (15/5/2018).
Menurutnya, uang hasil pendapatannya sebagai pekerja seks dulu selalu dikirimkan kepada ibu dan dua adiknya.
--page
"Lha, ibu saya sudah tua. Terus ia juga masih mengasuh satu anak saya yang masih kecil. Selain itu, ada dua adik saya yang masih sekolah. Nah makanya saya perlu uang yang banyak. Selama ini, mereka tidak tahu saya bekerja jadi PSK. mereka mengangap saya bekerja jadi buruh pabrik dan sekarang ini kerja jadi buruh di perkebunan sawit," jelasnya.
Menurutnya, sebelum datang ke Kabupaten Kobar, ia juga sempat melakukan profesi serupa di beberapa kota di Pulau Jawa.
"Waktu masih umur 24 tahun, tidak berapa lama setelah ditinggal suami minggat kawin lagi, saya nekat jadi PSK di Jakarta. Trus pindah-pindah dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Terakhir di Kobar ini," ujar perempuan berusia 30 tahun tersebut.
Selama berprofesi sebagai pekerja seks, ia mengaku beberapa kali diperlakukan kasar oleh tamunya. "Memang ada tamu yang baik. Tapi ada juga yang kasar. Biasanya gara-gara mabuk. Namun mohon maaf saya tidak bisa menceritakan apa saja kekasaran yang saya terima tersebut. Malu," ujarnya.
Karena itulah, ia memendam rasa muak dengan profesinya tersebut. Namun, ia juga bingung akan bekerja jadi apa bila tidak menjadi PSK.
--page
"Tapi uangnya lumayan dan saya juga memerlukan itu untuk keluarga. Walau uang yang diterima dari pemerintah dan berbagai pihak yang membantu saat ini lumayan besar, tapi bagaimana selanjutnya," tutur perempuan dengan wajah yang ditutup masker itu, Selasa (15/5/2018).
Ia mengaku tidak punya keterampilan apapun, bahkan SMP saja tidak tamat. "Semoga nanti kami yang dipulangkan ini bisa diberikan latihan kerja agar bisa menunjang hidup diri sendiri dan keluarga. Tahu sendiri to, harga kebutuhan pokok saat ini mahal," ujarnya.
Sekadar diketahui, ada tiga Provinsi di Pulau Jawa yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadi lokasi pemulangan para eks pekerja seks dari tiga lokalisasi di Kabupaten Kobar.
Dalam proses pemulangan ke daerah asal, mereka mendapat bantuan uang sebesar Rp5,5 juta dari Kementerian Sosial (Kemensos), Rp1,5 juta dari Pemkab Kobar dan Rp2,5 juta dari H Abdul Rasyid yang merupakan pengusaha nasional asal Kabupaten Kobar.
Uang tersebut diharapkan bisa dipergunakan para eks pekerja seks untuk memulai usaha penunjang hidup setelah meninggalkan profesi lamanya. (WAHYU KRIDA/B-2)








