BORNEONEWS, Palangka Raya – Sebagian lahan percontohan di Kalimantan tengah (Kalteng) yang ditanami padi dengan sistem organik sudah menampakkan hasil, bahkan produktifitasnya memuaskan. Namun sebagian belum disebut sebagai padi organik murni. Kenapa?
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) pada Dinas TPHP, Sumarli mengatakan produktifitas panen padi organik tersebut sebagian berada di sawah lama yang diikutkan program padi organik.
“Terkait kenapa padi ini belum belum murni disebut padi organik, karena padi itu ditanam di sawah lama, masih ada bekas pupuk dan pestisida dari sebelumnya,”kata Sumarli, Jumat (18/5/2018).
Jadi pengelolaannya secara pertanian organik, mulai dari pupuk hingga pestisidanya yang tanpa bahan kimia seperti pada pertanian padi umumnya. Tetapi lahannya masih ada bekas dari pengelolaannya cara pertanian lama.
”Makanya kami sebut ‘Padi Sehat’ begitu saja, atau ‘menuju Organik’. Sebab perlu pemurnian lahan yang waktunya 2-3 tahun. Beda kalau yang lahan benar-benar baru, langsung dikatakan padi Organik,” terang dia.
--page
Terkait produktifitas yang tinggi, Sumarli sudah bisa mencotohkan. Ada lahan sawah di Barito Timur yang sudah panen, menghasilkan 8 ton perhektare (ha). Hasil ini memuaskan karena biasanya 4-4,5 ton per ha bila menggunakan cara sebelumnya.
“Sebagai contoh, ada lahan sekitar 75 ha di Kabupaten Barito Timur sudah panen. Itu hasilnya cukup bagus karena menghasilkan 8 ton per ha. Bibitnya pakai lokal. Ini kan menjanjikan karena biasanya (padi biasa) hanya 4-4,5 ton per ha,” katanya. (ROZIQIN/B-5)








