BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPHP) Provinsi Kalteng, Sunarti mengatakan, program pemerintah baik pusat maupun provinsi saat ini mengenjot perluasan lahan tanam.
Namun sayangnya, di tengah gencarnya program Luas Tambah Tanam (LTT) yang didukung Kementerian Pertanian itu, justru ada lahan pertanian yang sudah jadi malah dialih-fungsikan warga menjadi lahan selain pertanian.
“Kita sudah optimasi lahan, program cetak sawah kerjasama dengan TNI 2015-2017 dan berlangsung hingga sekarang. Tetapi di sisi lain ada masyarakat yang mengubah lahan pertaniannya menjadi fungsi lain, sawit, karet, dan sebagainya,” kata Sunarti, Senin (21/5/2018).
Program LLT yang terus berlangsung, lanjut dia, menyasar tiga komoditas yang dikenal dengan Upsus Pajale atau Upaya Khusus Padi Jagung dan Kedelai.
Untuk LTT padi saja, data capaian Oktober 2017 hingga Maret 2018, Kalteng sudah mencetak sawah seluas 135.309,8 ha. Kemudian bertambah lagi capaian pencetakan April hingga 18 Mei 2018 seluas 76.229 ha.
--page
Kemudian untuk jagung, capaian April 2017 - September 2017 tercetak 5.600,4 ha lahan baru, kemudian dalam rentang Oktober 2017 – Maret 2018 tercetak lahan baru 11.168,7 ha. Data per 18 Mei 2018 bertambah lagi 18.911,5 ha.
Senada dengan ini, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Gunung Mas, Kardinal juga mengimbau masyarakat supaya jangan sampai melakukan alih fungsi lahan pertanian. Sebab alihkan fungsi sawah hanya akan merusak dan makin menyempitkan kawasan pertanian.
“Lahan pertanian Gunung Mas hanya sekitar 1.600 ha. Kami minta jangan melakukan alih fungsi lahan pertanian. Aturan dari Kementerian Pertanian, lahan tidak boleh dialihfungsikan untuk tanaman pohon karena makin membuat lahan pertanian menyusut,” katanya. (ROZIQIN/B-11)








