BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penutupan tiga lokalisasi membuat Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat (Dinkes Kobar) sedikit terkendala dalam memantau penyebaran HIV/AIDS.
Pasalnya, berdasarkan survei Dinkes Kobar di tiga lokalisasi sebelum ditutup pada tahun 2018 ini telah ditemukan kasus HIV/AIDS yakni pada Januari 10 kasus, Februari 7 kasus dan Maret dua kasus.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2KP) Dinkes Kobar Herdadi mengatakan, mereka yang terinfeksi HIV/AIDS ikut dalam kelompok yang dipulangkan.
"Memang mengurangi beban bagi Pemkab Kobar, namun untuk penyebaran HIV/AIDS untuk wilayah yang lebih luas tidak bisa kita hindari," terangnya, Kamis (24/5/2018).
Yang Kedua, lanjutnya, berdasarkan pendataan awal terdapat kurang lebih 250 orang PSK dan akhirnya yang dipulangkan ke daerah asalnya berjumlah 62 orang. Dikhawatirkan, sisanya masih melakukan aktivitasnya secara sembunyi-sembunyi.
--page
“Hal ini yang memerlukan perhatian kita bersama, jangan sampai terjadi penyebaran HIV/AIDS yang lebih luas di tengah masyarakat," tandasnya.
Seperti diketahui, Dinkes Kobar secara berkala yakni dua kali dalam satu bulan melakukan survei untuk para pekerja seks komersial (PSK) yang ada dilokaliasi di wilayah Kobar. Namun setelah ditutupnya tiga lokalisasi, Dinkes Kobar kesulitan melakukan pemantauan. (MASROHAN/B-2)








