BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kinerja ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit (PKO) Indonesia pada April merosot 7 persen menjadi 2,39 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Ini merupakan fenomena tak biasa, karena biasanya sebelum Ramadan, permintaan minyak sawit dari India meningkat, tapi tahun ini hal itu tidak terjadi," kata Sekjen Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/5/2018).
Menurut dia, penurunan permintaan minyak sawit oleh India banyak dipengaruhi oleh tingginya bea masuk terhadap minyak sawit dan turunannya.
Secara tahunan (year-on-year), ekspor selama Januari-April ke India turun 24 persen menjadi 1,8 juta ton dari 2,37 juta ton pada 2017.
Kemudian, pada Januari-April, ekspor ke Uni Eropa juga turun 16 persen dari periode yang sama tahun lalu akibat kampanye negatif.
--page
Penurunan kinerja ekspor Indonesia, ditambah dengan kondisi yang serupa di Malaysia, diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit.
Sementara itu, harga minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat pada Rabu (30/5/2018), rebound dari level terendah dalam tiga pekan berkat sentimen positif kenaikan harga minyak nabati di bursa komoditas China.
Komoditas lain yang ikut mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit adalah minyak mentah dunia, yang semalam ditutup melemah akibat tekanan dari meningkatnya cadangan minyak AS dan ekspektasi bahwa OPEC dan negara penghasil minyak lainnya dapat meningkatkan produksi dalam pertemuan organisasi itu pada Juni mendatang. (NEDELYA RAMADHANI/m).








