BORNEONEWS, Palangka Raya - Ada beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), yang rasio pendapatan asli daerah (PAD)-nya sangat kecil persentasenya dibanding total pendapatan daerah. Bahkan hanya 3 persen lebih.
Hal itu menunjukkan ketergantungan pembiayaan pembangunan daerah terhadap anggaran dari pusat sangat besar sekali. Ironis dengan besarnya potensi sumber daya alam yang terkandung melimpah.
Tren rasio PAD terhadap pendapatan daerah ini diungkapkan Kepala Kepala Perwakilan Badan Pemerika Keuangan (BPK) RI Kalteng, Ade Iwan Ruswana, saat media workshop, Kamis (31/5/2018).
“Bagaimana bisa membayangkan pembangunan ketika PAD hanya 3-5 persen saja dari total pendapatan daerah di struktur APBD,” katanya.
Dia memaparkan, tren rasio PAD terhadap pendapatan daerah dalam kurun 2015-2018. Terburuk adalah Kabupaten Gunung Mas, pada 2017 PAD terpotret hanya 3,52 persen. Dua tahun sebelumnya adalah 3,86 persen (2016) dan 3,89 persen (2015).
--page
Urutan terendah berikutnya adalah Pemkab Pulang Pisau, berkisar 3,79 persen saja jumlah torehan PAD dibanding total pendapatan daerah di APBD Kalteng. Tahun sebelumnya juga rendah yaitu 3,83 persen (2016), dan 4,03 persen (2015).
Selanjutnya Kabupaten Katingan, rasio PAD-nya hanya 4,56 persen. Sedangkan tahun sebelumnya adalah 4,11 persen (2016) dan 3,83 persen (2015).
Ada dua kabupaten lagi juga rendah PAD yaitu sekitar 5 persen lebih di 2017. Yaitu Kabupaten Murung Raya yang hanya dapat 5,91 persen, Kapuas 5,43 persen dan Barito Selatan 5,29 persen. (ROZIQIN/B-11)








