JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22 persen menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton.

Peningkatan ekspor oleokimia, merupakan produk hilir kelapa sawit ini, ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak.

Di dalam negeri, menurut dia, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever.

Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia dengan nilai ekspor mencapai US$3,3 miliar  pada 2017.

Tahun ini, tambahnya, diperkirakan nilai ekspor naik menjadi US$3,6 miliar sementara hingga triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan US$915 juta,

--page

Sementara itu, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan industri hilir sawit nasional mengalami pertumbuhan positif pada 2018 baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia maupun biodiesel.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan bahwa ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir, yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi AS dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko, maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat.

"Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global," kata Sahat. (NEDELYA RAMADHANI/m)