KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Stunting merupakan kondisi tubuh seperti tinggi badan di bawah rata-rata. Karena itu stunting punya sejumlah efek negatif bagi anak.

Stunting menandakan ketidakmampuan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan normal. Sehingga anak akan mempunyai tubuh yang pendek, tingkat kecerdasannya rendah dan berisiko menderita penyakit tidak menular seperti kencing manis pada saat dia berusia dewasa.

"Penyebab terjadinya stunting seperti ibu hamil kekurangan energi dan kurang darah sehingga melahirkan bayi dengan berat di bawah 2,5 kg. Makanya anak tersebut masa pertumbuhannya akan terhambat," Kata Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Yeristiruyeti, Senin (4/6/2018).

Karena pada dasarnya kondisi tersebut sering terjadi pada ibu yang melahirkan di usia remaja dengan jenjang usia 15 sampai 19 tahun. Selain itu ibu yang memiliki tinggi badannya kurang dari 150 centimeter dan tidak mendapatkan ASI eksklusif maka ada kemungkinan bisa terjadi yang namanya stunting pada anak.

"Untuk mencegah stunting harus dimulai 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masih didalam kandungan sampai anak tersebut berusia dua tahun. Sehingga apabila ibu hamil mengalami kurang gizi, bayi yang dilahirkan pun beresiko mengalami gangguan pertumbuhan, berat badannya kurang dan bisa menjadi stunting," ucapnya.

--page

Cara memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil seperti makanan harus bergizi seimbang dan bervariasi. Serta makanan bersumber protein hewani harus lebih banyak untuk pembentukan sel dan jaringan tubuh, agar dapat mencegah anemia. (HARDI/B-5)