BORNEONEWS, Kuala Kapuas- Kasus gizi buruk terjadi akibat pola makan dan asuh yang salah. Kemudian, cara membuat makanan yang salah juga bisa menyebabkan gizi buruk. Seperti memasak sayur terlalu matang dan makanan yang dibuat pagi malah disajikan pada saat siang.
"Karena pada dasarnya masakan yang dibuat tersebut harus satu kali masak dalam satu kali konsumsi. Serta jangan dalam satu kali masak di gunakan tiga kali konsumsi. Sehingga dengan begitu pola makan begitu dimasak untuk tiga kali makan maka kandungan gizinya akan hilang," kata Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Yeristiruyeti, Senin (4/6/2018).
Ia menurutkan, Dinas Kesehatan Kapuas pernah menangani kasus yang berkaitan dengan gizi buruk. Setelah diselidiki, ternyata orang tua si penderita gizi buruk tersebut dalam keadaan sakit. Hal itulah yang menyebabkan anak tidak mendapat asupan gizi yang baik.
"Selain itu, status perkawinan pada perempuan juga bisa menyebabkan anak menjadi gizi buruk. Seperti rentan usia di bawah 22 tahun cenderung anak tersebut menderita gizi buruk. Sehingga gizi buruk bukan hanya pola makan, tapi juga status perkawinan dan pola asuh pada anak," ucapnya.
Untuk penanganan kasus gizi buruk, Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas akan merujuk pasien ke rumah sakit. Kalau untuk gizi kurang masih bisa di kelola dengan memberikan makanan tambahan melalui puskesmas. (SARJITO/B-3)







