BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan, industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri.
"Tahun ini, industri hilir sawit tumbuh positif baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel," kata Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga, kepada pers di Jakarta, Senin (4/6).
Sahat mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir, yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat.
"Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global," papar Sahat.
Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabara memproyeksikan, volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton.
--page
"Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak," ujarnya.
Di dalam negeri, lanjut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia.
"Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi US$3,6 miliar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan US$915 juta," tutur Rapolo. (NEDELYA RAMADHANI/m)








