BORNEONEWS, Sampit - Gema takbir bersahutan disejumlah masjid atau lapangan yang digunakan untuk merakan Hari Raya Idul Fitri 1439 H.
Takbir yang didengungkan sebagai rasa syukur menyambut Hari Raya dan hal itu seakan menjadi penyemangat bagi para anak buah kapal yang masih semangat bekerja melayani pemudik dari berbagai pelabuhan yang ada di Indonesia, termasuk di Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Salah satunya Rudi (50) ABK KM Lauser. Meski selama 25 tahun bekerja di kapal, namun baru tiga kali dia pernah merasakan merayakan lebaran bersama anak istri dan keluarganya yang tinggal di Jakarta.
Walau begitu tidak menyurutkan semangatnya untuk melayani penumpang yang ingin melaksanakan mudik ke kampung halaman.
"Saya selama 25 tahun bekerja sebagai ABK, baru tiga kali bisa lebaran bersama keluarga," ujar Rudi yang nampak masih ceria sambil membersihkan kaca KM Lauser, Jumat (14/6/2018).
--page
Walau nampak terlihat ceria, namun di dalam hatinya merasakan kesedihan dan juga rasa kangen berkumpul keluarga. Bagaimana tidak, untuk menyempatkan diri berpuasa hingga berbuka dan sahur bersama keluarga saja sangat sulit.
Karena dia harus mengatur libur yang diberikan oleh perusahaan dalam tiga bulan sekali.
"Untuk tahun ini sempat berpuasa di rumah beberapa hari, setelah itu langsung bekerja kembali dan belum ada pulang ke rumah," katanya.
Walau dalam hatinya sangat sedih, namun baginya bisa melaksanakan salat Id di salah satu daerah tempat kapal singgah sudah cukup baginya dan untuk lebaran tahun ini dirinya melaksanakan lebaran di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.
Walau begitu untuk menghilangkan rasa rindunya kepada keluarga, dia hanya mehubungi melalui telepon genggam. Hal itupun sudah bisa mengobati kesedihan hatinya.
Saat inipun dirinya berharap lebaran tahun depan bisa berkumpul kepada keluarga. Hal itupun sangat diharapkan olehnya, karena ingin menyenangkan anaknya yang sudah lama tidak lebaran bersamanya. (MUHAMMAD HAMIM/B-6)








