BORNEONEWS, Kasongan - Sedikitnya 500 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa warga unit permukiman transmigrasi (UPT) Hiyang Bana, Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, sejak sepekan terakhir mengalami kiris air bersih.
Menurut pantauan borneonews.co.id Sabtu (16/6/2018) warga transmigrasi Hiyang Bana ini mulai kesulitan air bersih sejak datangnya musim kemarau, dua pekan terakhir.
Pasalnya, sejak saat itu wilayah permukiman transmigrasi ini tidak lagi diguyur hujan. Sementara untuk keperluan air minum, memasak dan cuci, selama ini warga mengandalkan air hujan.
Biasanya warga mengumpulkan air hujan dengan memasang sejumlah drum plastik atau tempat penampungan air lainnya di pojok-pojok rumah mereka dimana air hujan yang jatuh di atap rumah mengalir dan terkumpul melalui saluran talang dan jatuh di tampat penampungan air.
"Sudah sekitar dua minggu ini kami warga transmigrasi Hiyang Bana kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan tiap hari," tutur Atu, seornag warga jalur II UPT Hiyang Bana.
--page
Menurut Atu, sebenarnya air sumber/tanah yang ada di wilayah UPT Hiyang Bana ini banyak. Namun warga enggan menggunakannya karena air yang ada berwarna seperti air teh dan rasanya masam.
"Jangankan untuk diminum, untuk membasuh muka saja air sumur yang ada kalau kena mata perih," ujarnya.
Atu mengaku ia dan warga lainnya selama kurang lebih delapan tahun menempati lokasi hanya mengandalkan air hujan.
Akan tetapi sejak dua pekan terakhir hujan tidak lagi mengguyur, sementara persediaan air hujan sebagian besar milik warga telah habis.
"Warga terpaksa mandi dan mencuci pakai air parit depan rumah yang kotor itu, sedangkan untuk keperluan air minum membeli air galon yang biasanya dijual keliling dari Kereng Pangi dengan harga Rp5 ribu per galon," katanya.
Atu mengaku di UPT Hiyang Bana ini ada sebanyak 500 unit rumah untuk 500 kepala keluarga
--page
Mereka sudah menempati lokasi sekitar delapan tahun silam terdiri dari berbagai wilayah di Indonesia, di antaranya, Jateng, Jabar, Lampung dan sebagian warga trans lokal.(ABDUL GOFUR/m)








