BORNEONEWS, Sampit - Stefanus Balim yang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa Kamis (21/6/2018) sekitar pukul 10.00 WIB di Sungai G 10 Penyahuan Estate PT Agro Wana Lestari (AWL), Desa Tumbang Penyahuan, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotim masih menuai tanda tanya. Lantaran tidak ada yang melihatnya secara langsung.
"Tidak ada yang melihat apakah dia bunuh diri atau seperti apa. Termasuk saya sendiri tidak melihat," kata Yusuf, salah seorang mandor PT AWL, Senin (25/6/2018) yang ikut dipanggil dalam kasus itu.
Itu juga dibenarkan oleh Aris Billi Dafa dan Yohanes yang juga merupakan karyawan PT AWL. Kedua saksi ini hanya mengevakuasi korban saat itu.
"Setelah dapat kabar kami ke lokasi melihat bercak darah. Lalu saya masukan kaki ke sungai mengecek kedalaman sungai ternyata kaki saya menyentuh korban," kata Aris.
Lalu, ia dan Yohanes turun ke sungai untuk menyelamnya hingga akhirnya menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa lagi saat itu.
--page
Menurut mereka, penyebab tewasnya Stefanus simpang siur lantaran seusai pergi dari kediamannya ia membawa pisau. Sehingga disimpulkan ia mengakhiri hidupnya dengan pisau yang dibawanya itu.
"Padahal tidak boleh disimpulkan seperti itu. Karena tidak ada yang melihat kejadian itu, kalau ada yang melihatnya bisa saja ini tidak ada. Ia ditemukan dalam kondisi seperti itu," tandas Yusuf. (NACO/B-2)








