JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Usulan melarang pemakaian minyak sawit untuk biofuel di Uni Eropa diperkiarakan akan memicu masalah, yakni hancurnya keragaman hayati di kawasan di luar area perkebunan kelapa sawit.

Untuk diketahui, berbagai kampanye negatif yang disuarakan sejumlah pemerintahan dan organisasi internasional terhadap komoditas sawit, yang dituding sebagai pemicu deforestasi dan punahnya berbagai hewan yang menghuni kawasan hutan yang beralih fungsi sebagai perkebunan sawit, terutama di Indonesia dan Malaysia.

Namun demikian, ketakutan akan berkurangnya hutan akibat perluasan perkebunan sawit, ternyata justru akan mendorong peningkatan produksi minyak nabati jenis lain untuk memenuhi tingginya permintaan dunia.

Akibatnya, masalah lingkungan lain akan muncul, yakni hilangnya banyak area hutan dan savanah di kawasan penghasil minyak nabati dari kedelai, jagung, bunga matahari, rapeseed dan lainnya, berdasarkan hasil survei terbaru dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). 

Organisasi yang bermarkas di Swiss itu mengatakan produksi minyak sawit diklaim mengancam kehidupan sekitar 190 spesies, seperti orangutan dan harimau. Tapi untuk penanaman penghasil minyak nabati selain sawit justru membutuhkan lahan jauh lebih luas, yakni sekitar sembilan kali lipat dari lahan sawit.

--page

Untuk itu, kata IUCN, kerusakan akibat perluasan area tanam komoditas penghasil minyak nabati selain sawit itu akan sama atau mungkin lebih parah ketimbang dampak dari perluasan lahan sawit. 

"Kelapa sawit telah mengganggu keragaman hayati di kawasan Asia Tenggara, karena menggerus banyak hutan tropis. Tapi untuk tanaman kedelai, rapeseed, dan bunga matahari membutuhkan lahan sangat luas, sehingga akan merusak ekosistem alam dan spesies lainnya," kata Ketua Gugus Tugas Minyak Sawit di IUCN, Erik Meijaard, dalam pernyataan tertulisnya.

Adapun hasil survei itu diterbitkan di sela gelaran konferensi Eropa Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Paris. (NEDELYA RAMADHANI/m)