JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Produksi minyak sawit di Indonesia dan malaysia diperkirakan turun menyusul terganggunya proses panen sawit seiring dengan panjangnya masa liburan menjelang dan setelah Lebaran tahun ini. 

Para petani sawit skal kecil di Indonesia telah membanjiri banyak pabrik pengolahan sawit setelah mereka memilih cepat-cepat menjual buah sawit menyusul masa liburan Lebaran tahun ini yang lebih panjang dari biasanya. Akibatnya, harga tandan buah segar (TBS) merosot, kata beberapa asosiasi petani sawit, seperti dikutip The Edge Markets akhir pekan ini.  

Dengan membanjirnya pasokan TBS di sejumlah pabrik pengolahan minyak sawit, para pemilik pabrik memilih membeli TBS dari petani dengan harga rendah. 

"Kami memperkirakan ada penurunan produksi sebesar 5 hingga 8 persen karena banyak buah sawit yang terlalu matang akibat banjirnya pasokan," kata Serikat Petani Kelapa sawit (SPKS). 

Di Kalimantan Timur, TBS diperdagangkan di angka Rp800 per kilogram, turun dari Rp1.500 pada tiga bulan lalu, tambah SPKS.

--page

Sedangkan di Bengkulu, banyak petani sawit yang memutuskan untuk tidak memanen buah sawit akibat harga yang rendah, yakni Rp500 per kilogram.

"Banyak petani sawit yang menunda panen sebelum Idul Fitri," kata Kanisius Teteng, Divisi Advokasi Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).

Menurut dia, banyak pabrik yang menolak TBS dari petani, karena mereka memang membatasi pembelian TBS dari petani akibat membanjirnya pasokan. 

Kondisi hampir sama terjadi di Malaysia, yang seperti di Indonesia, para petani sawit mayoritas juga merayakan Lebaran, sehingga produksi sawit juga akan terpukul.  (NEDELYA RAMADHANI/m)