PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Ada yang perlu diubah dalam rangka memajukan daerah, terutama berkenaan mindset pengelolaan anggaran. Strategi ‘budgeting’ ini yang dikritik Sosiolog Ekonomi Nasional, Pheni Chalid, SF, M.A, P.hD karena masih jauh dari ideal.

Ada karakteristik kerja finansial di Birokrasi yang menjadi titik tekan Dosen dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini saat berbincang dengan Borneonews usai hadir di acara BI Perwakilan Kalteng kemarin.

“Karakteristik birokrat, itu kumpulkan lalu anggarkan kemudian habiskan (service). Berbeda dengan karakteristik swasta, yaitu cari untung - belanjakan/anggarkan - untuk cari untung (lagi),” beber Pheni.

Padahal, sudah menjadi tujuan bersama pengelolaan pemerintahan daerah dewasa ini adalah sudah pada prinsip good governance (tata kelola pemerintahan yang baik) yang bersendi pada pelayanan yang baik, sedangkan bagi perusahaan/swasta, adalah berprinsip Corporate Governance atau tata kelola perusahaan yang baik. Jika tidak begitu, maka akan jauh tertinggal dengan tuntutan zaman.

“Jadi jangan sampai capek-capek kumpulkan (pendapatan daerah) lalu anggarkan dan habiskan. Progam jangan hanya berbuah (output) program. Rapat hanya berbuah rapat. Kalau sebuah kegiatan tidak manfaat ya tahun depan tidak usah diulang lagi buat kegiatan serupa itu namanya Incremental budget. Jadi kalau tidak ada hasilnya, capek saja buang uang dan tenaga, orientasinya harus dan hasil,” jelasnya.

--page

Ia mengingatkan dalam dunia birokrasi, konsepnya adalah melakukan kegiatan sekecil mungkin atau seefisien mungkin tapi hasilnya sebesar mungkin kemanfaatannya. ”dalam pelayanan, simple yang dikerjakan tapi kok ‘hasilnya’ berlipat-lipat, maka itu something wrong. Birokrasi harus melayani,” pesannya. (ROZIQIN/B-5)