JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Biaya produksi biodiesel akan turun 2% dari Juli tahun lalu sebesar Rp6.911 per liter menjadi Rp6.757 per Juli 2018, seiring melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO) yang menjadi bahan baku. 

"Biodiesel untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) ini perlu ditingkatkan produksi dan penggunaannya demi memangkas impor minyak," kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, di Jakarta awal pekan ini.

Biaya produksi biodiesel sekitar 85% dari Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN), yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk Juli 2018, HIP biodiesel turun menjadi Rp7.949 per liter, dibandingkan Rp8.131 per liter pada Juli 2017.

"Upaya peningkatan produksi dan penggunaan biodiesel layak dipertimbangkan ketika kondisi negara sedang defisit neraca perdagangan. Apalagi, defisit neraca perdagangan dipicu defisit sektor migas. Langkah tersebut bila berhasil dijalankan dalam situasi harga minyak tinggi, akan menghemat devisa," papar Komaidi.

Ketika harga minyak tinggi, lanjut Komaidi, pembicaraan soal peningkatan produksi biodiesel mengemuka di banyak negara. Serapan biodiesel di dunia rata-rata hanya 5-6% total volume penggunaan bahan bakar.

--page

"Dalam konteks Indonesia, kebijakan ini akan berhadapan dengan daya beli dan minat penggunaan biodiesel oleh konsumen. Selain itu, ada keterbatasan bahan baku biodiesel, bersaing dengan peruntukannya untuk produk pangan, produsen pasti memperhitungkan margin keuntungan antara produksi BBN atau untuk produksi pangan," ujarnya.

Komaidi menambahkan, biaya produksi biodiesel di Indonesia masih mahal karena skala usahanya masih kecil. Dengan nilai investasi pabrik yang besar tetapi volume serapan masih rendah, biaya produksi per satuan liter menjadi tinggi.

"Kami mengapresiasi langkah-langkah pemerintah yang terus mendorong penggunaan atau konsumsi B20 (campuran biodiesel 20%)," tutur Komaidi. (NEDELYA RAMADHANI/m)