BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Eagle High Plantations Tbk berniat membangun pabrik kelapa sawit (PKS) yang baru di Kalimantan Timur pada kuartal IV tahun ini dengan investasi sebesar Rp280 miliar.
Pembangunan pabrik baru berkapasitas hingga 60 ton per jam. Pabrik tersebut diprediksi dapat mulai beroperasional pada 2020.
Keputusan menambah pabrik merupakan strategi perusahaan untuk mengolah tandan buah segar (TBS) dari kebun inti dan plasma. Pasalnya, dua tahun mendatang itu sudah ada penambahan tanaman yang memasuki usia prima.
Selain itu, kelak pabrik baru perseroan dapat menerima dan mengolah TBS dari kebun masyarakat di sekitar, sehingga hal itu dapat menjadi bagian dari bentuk kemitraan yang berkelanjutan antara Eagle High Plantations dan masyarakat.
Sejauh ini, perseroan memiliki delapan PKS, yang berlokasi di Kalimantan dan memiliki total kapasitas 2,5 juta ton per tahun. Namun, Eagle High Plantations berpeluang merampungkan PKS ke-9 yang berada di Papua pada September mendatang.
--page
Berdasarkan hal itu, kapasitas produksi emiten berkode BWPT ini akan naik menjadi 2,85 juta ton per tahun.
Selain membangun PKS, tahun ini perseroan juga berniat membangun bulking station di Kaltim. Bulking station itu direncanakan memiliki kapasitas simpanan sebanyak 4.000 metrik ton (MT).
Menilik laporan keuangan perseroan, sampai kuartal I-2018, Eagle High Plantations memiliki kas dan setara kas Rp70,23 miliar. Adapun selama kuartal I lalu, perseroan mencatatkan kenaikan rugi bersih dari Rp16,22 miliar menjadi Rp76,4 miliar.
Sementara, total pendapatan turun 24,92% dari Rp838,74 miliar menjadi kisaran Rp629,7 miliar.
Penambahan luas areal sawit tertanam sawit menghasilkan (mature) dan ekspektasi kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan menopang Eagle High untuk meraih untung tahun ini.
--page
Bahkan, ekspektasi keuntungan diharapkan berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. Binaartha Sekuritas menargetkan Eagle High mencetak keuntungan senilai Rp86 miliar tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu dengan rugi bersih Rp186 miliar.
Penjualan perseroan juga diharapkan naik dari Rp3,04 triliun menjadi Rp3,47 triliun.
"Kami menetapkan outlook Eagle High lebih baik tahun ini, baik dari aspek produksi dan harga jual. Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rata-rata kenaikan pendapatan tahunan (CAGR) perseroan berkisar 13% hingga 2019," kata analis Binaartha Sekuritas, Revita Dhiah Anggrainy, dalam risetnya.
Dengan perbaikan produksi dan harga jual, dia mengatakan perseroan diestimasi mulai membukukan keuntungan tahun ini setelah tiga tahun berturut-turut mencetak rugi bersih.
"Keuntungan tersebut juga diharapkan berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. Hingga kuartal I-2018, perseroan membukukan penurunan pendapatan dari Rp838,74 miliar menjadi Rp629,69 miliar, laba usaha juga turun dari Rp105,83 miliar menjadi Rp36,95 miliar," papar Revita.
--page
Penurunan tersebut membuat rugi bersih perseroan periode berjalan meningkat dari Rp16,55 miliar menjadi Rp76,88 miliar. Ekspektasi keuntungan perseroan didukung atas sejumlah faktor, seperti bertambahnya areal tanaman sawit menghasilkan perseroan.
Menurut Revita, areal tertanam perkebunan kelapa sawit perseroan menjadi 153 ribu hektare tahun ini atau sama dengan tahun lalu. Sedangkan luas perkebunan yang sudah memasuki usia matang diperkirakan mencapai 99% dari total luas lahan tersebut, bandingkan dengan tahun lalu baru mencapai 94%.
"Pertumbuhan kinerja keuangan juga didukung atas perkiraan peningkatan yield perkebunan kelapa sawit perseroan menjadi 12,67 ton per hektare tahun ini, dibandingkan tahun 2017 sekitar 11,43 ton per hektar. Kondisi ini akan berdampak terhadap peningkatan volume produksi tandan buah segar (TBS) perkebunan perseroan menjadi 1,56 juta ton tahun ini, dibandingkan perolehan tahun lalu sekitar 1,36 juta ton," ujarnya.
Begitu juga dengan volume produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan meningkat dari 283 ribu ton menjadi 326 ribu ton untuk 2018. Peningkatan produksi CPO ini sejalan dengan ekspetkasi kenaikan volume produksi TBS.
Pertumbuhan juga didukung atas target kenaikan kapasitas pabrik sawit perseroan menjadi 475 ton per jam tahun ini, dibandingkan tahun lalu sekitar 430 ton per jam.
--page
Sejumlah fakta tersebut mendorong Binaartha Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham BWPT dengan target harga Rp580 per saham. Target harga tersebut merefleksikan valuasi EV/EBITDA sekitar 10,7 kali. (NEDELYA RAMADHANI/m)








