BORNEONEWS, Palangka Raya - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah (Kalteng) melakukan analisa dampak daging ayam ras terhadap inflasi di Kalteng.
Maklum, harga daging ayam ras meroket pada Juni 2018 kemarin terutama jelang hari raya Idul Fitri dan terpotret menjadi andil inflasi. Saat ini saja, masih bertengger di angka Rp 38 ribu per Kg.
Deputi BI Perwakilan Kalteng, Setian mengatakan, komoditas daging ayam ras memberikan dampak yang cukup besar terhadap pencapaian andil inflasi volatile food Kalteng, sehingga diperlukan perhatian khusus terhadap ketersediaan komoditas ini.
"Andil inflasi volatile foods di Kalteng per Juni ini mencapai 0,54 persen, tetapi begitu komoditas daging ayam dikeluarkan atau tanpa daging ayam ras, menjadi 0,24 persen saja," kata Setian yang juga Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalteng ini, Selasa (3/7/2018).
Dalam grafik, terlihat rentang cukup lebar antara memasukkan andil daging ayam ras dan tidak. Berbeda dibandingkan kondisi pada Mei 2018 misalnya, rentangnya tdlidak lebar. Dimana andil inflasi volatile foods 0,19 persen, bila tanpa daging ayam ras hanya sebesar 0,05 persen.
--page
Untuk diketahui, komoditas utama pendorong terjadinya inflasi di Palangka Raya berasal dari jasa angkutan udara (0,65 persen) dan daging ayam ras (0,21 persen). Begitu pula di Sampit, yang dipicu oleh jasa angkutan udara (0,60 persen) dan daging ayam ras (0,39 persen).
Sebaliknya, komoditas utama yang berkontribusi terhadap potensi terjadinya deflasi di Palangka Raya dan sampit adalah komoditas ikan. (ROZIQIN/B-11)








