BORNEONEWS, Palangka Raya– Selama Juli 2018 ada beberapa kondisi yang dikhawatirkan bisa mengganggu stabilitas harga pangan di Kalimantan Tengah. Antara lain situasi cuaca dan prediksi gelombang tinggi di laut selatan Kalteng dan naiknya harga BBM.
Gelombang tinggi mengancam turunnya produksi ikan laut. Sedangkan naiknya harga BBM mengancam melonjaknya biaya angkutan yang berimbas distribusi barang dan lainnya.
Karena itu, Pemprov Kalteng harus menyiapkan langkah antisipasi agar pereknomian tetap berjalan dengan baik dan stabil melalui kinerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
“Program rutin TPID harus diintensifkan antara lain pemantauan harga pasar, pengendalian ekspektasi masyarakat dengan rilis terkini, dan menjaga ketersediaan stok serta kelancaran distribusi komoditas yang didatangkan dari luar daerah,” sebut Deputi BI Kalteng Setian, yang juga Wakil ketua TPID Kalimantan Tengah, Selasa (3/7/2018).
Setian mengatakan, langkah lain adalah peningkatan kualitas atas pemanfaatan kandang penyangga, kolam penyangga, dan pasar penyeimbang untuk menjaga kestabilan harga.
--page
Terkait pasar penyeimbang, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagperin Kalteng, Jenta, mengatakan bahwa kelemahan ada di daerah yang belum melaksanakan program pasar penyeimbang.
“Program ini sudah lama digaungkan agar di kabupaten se-Kalteng mendirikan pasar penyeimbang. Tapi belum ada yang jadi. Padahal selaras dengan peraturan gubernur mengenai pembentukan TPID dengan program utama pengendalian harga melalui pasar penyeimbang tadi,” ungkapnya. (ROZIQIN/B-3)








