PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dinilai sudah layak harus ada pasar penyeimbang, sebagai sarana dan pembanding harga pasaran dan berfungsi penekan gejolak harga.

Terlebih Kota Sampit ini adalah salah satu dari kota indikator perhitungan inflasi tiap bulan di Kalimantan Tengah (Kalteng) selain dari Kota Palangka Raya. Salah satu indikator ini juga menjadi penilaian pihak Bank Indonesia (BI) Kalteng.

“Hasil pemantauan untuk Sampit, inflasinya juga kerap lebih tinggi dibanding Kota Palangka Raya. karena itu kami intensifkan untuk supaya buat pasar penyeimbang di Sampit,” kata Deputi BI Kalteng, Setian, Rabu (4/7/2018).

Setian yang juga unsur Wakil Ketua di Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalteng, mendorong lebih diaktifkan TPID Kotim. Sebab yang menggerakkan pasar penyeimbang adalah TPID meskipun penanggungjawab kegiatan diserahkan kepada dinas terkait.

““Inflasi tinggi di Sampit bulan ini, kami akan mendorong lebih diaktifkan TPID disana dan kita koordinasikan program kerja TPID disana supaya jalan,” kata Setian.

--page

Sementara Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Provinsi Kalteng, Jenta mengatakan sebenarnya instruksi agar TPID bekerja maksimal di kabupaten/kota sudah diinstruksikan termasuk oleh Gubernur.

Sedangkan pasar penyeimbang, dalah bagian dari program TPID yang harus dilaksanakan.

“Saya tidak tahu kenapa pasar penyeimbang belum ada yang berdiri di kabupaten/kota, padahal sudah ada imbauan agar mendirikan. Ini mungkin soal SDM di TPID tiap daerah,” ulasnya. (ROZIQIN/B-5)