BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya menekan harga daging ayam potong yang sering melonjak, bisa disiasati dengan penyediaan daging ayam beku. Hanya saja soal distribusinya, masih dihadapkan soal tempat penyimpanan saja. Sehingga, tidak mudah mendistribusikannya ke pasar.
Deputi Bank Indonesia Perwakilan Kalteng, Setian mengatakan, pihaknya akan mendiskusikan dengan badan urusan logistik (Bulog) Kalteng yang sudah pengalaman dalam daging kerbau beku.
“Kita coba diskusikan masalah ini dengan Bulog, apakah memungkinkan masuk ke bisnis daging ayam beku,” kata Setian, Rabu (4/7/2018).
Memanfaatkan jaringan Bulog, memang bisa jadi alternatif. Karena Bulog sudah memiliki jaringan ritel ke masyarakat dengan hadirnya Rumah Pangan Kita (RPK). Hanya saja, tidak semuanya RPK itu memiliki lemari pendingin untuk meletakkan daging beku.
Sementara itu Kepala Bidang Perdagangan dalam negeri pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kalteng, Jenta, mengungkapkan, daging beku diyakini mampu menekan lonjakan inflasi jelang hari besar keagamaan misalnya Lebaran dan Natal.
--page
“Masyarakat sudah sering menggunakannya (daging beku), terutama pedagang makanan. Kalau di Hypermart, satu potong ayam utuh hanya Rp 29 ribu. Di luaran atau pasar bisa mencapai 50 ribu. Artinya, masyarakat ada alternatif ketika harga ayam naik terlalu tinggi,” kata Jenta.
Harus diakui, lonjakan harga daging ayam ras menjadi momok tahunan. Oedagang yang memanfaatkan hari besar, membuat pusing pemerintah daerah terutama tim pengendali inflasi daerah (TPID). Seperti saat Lebaran tadi, harga ayam potong menyentuh Rp 60 ribu per kilogram. (ROZIQIN/B-11)








