JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Salah satu pendiri Wilmar International, Martua Sitorus, telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan agribisnis yang berbasis di Singapura itu.

Pengunduran diri Martua itu menyusul pengungkapan oleh Greenpeace International mengenai keterkaitan dirinya dengan Gama Plantation, perusahaan minyak sawit yang dituding bertanggung jawab atas deforestasi masif di Indonesia.

Gama Plantation adalah perusahaan minyak sawit yang dikelola oleh sejumlah eksekutif senior Wilmar dan beberapa anggota keluarga mereka.

Selain itu, seperti dikutip The Edge Singapore, saudara tiri Martua, Hendri Saksti, yang menjabat sebagai country head Wilmar di Indonesia, juga mengikuti langkah Martua untuk mundur dari perusahaan agribisnis yang didirikan pada 1991 itu.

Menengok ke belakang, tepatnya pada 2013, Wilmar telah mengungkapkan komitmen mereka menghentikan deforestasi. Tapi berdasarkan penyelidikan Greenpeace, terungkap bahwa Gama telah melakukan penebangan hutan di sebuah area yang luasnya setara dua kali ukuran kota Paris.

--page

Menanggapi laporan tersebut, Kiki Taufik, global head Greenpeace untuk kampanye hutan di Indonesia, mengatakan dari hasil temuan itu menunjukkan bahwa Wilmar berniat menyalahkan pihak lain untuk kesalahan yang mereka lakukan.

"Ini bukan hanya soal Gama atau Martua Sitorus. Ini soal penolakan Wilmar untuk melakukan apa yang perlu dilakukan agar para perusak hutan tak ada lagi dalam rantai pasok mereka. Jika Wilmar serius melakukan perbaikan, langkah pertama adalah membuktikan para pemasoknya bersih dengan meminta mereka menerbitkan peta dari seluruh konsesi yang digarap," katanya.

Greenpeace mendesak sejumlah brand dan para trader menangguhkan kerja sama bisnis dengan Wilmar sampai perusahaan ini menyebutkan pelanggaran terhadap kebijakan ‘no deforestation, no peat, no exploitation’, dengan mulai menerbitkan peta konsesi untuk seluruh produsen minyak sawit dalam rantai pasok mereka.  (NEDELYA RAMADHANI/m)