PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Bank Indonesia (BI) Kalimantan Tengah memprediksi bahwa pada Juli 2018 ini akan terjadi deflasi yang merupakan normalisasi permintaan pasca tingginya tekanan harga yang terjadi pada bulan Juni 2018.

Hal ini diungkapkan Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia, Setian dalam jumpa pers, Kamis (5/7/2018).

Namun demikian, lanjut Setian, masih terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi upside risks pencapaian inflasi bulan Juli 2018, antara lain potensi turunnya produksi budidaya ikan introduksi memasuki periode kemarau di sebagian wilayah Kalteng serta tingginya gelombang di pesisir selatan Kalteng dapat berpotensi pada turunnya hasil tangkapan ikan laut nelayan.

"Ada pula rencana kebijakan kenaikan harga BBM Non Subsidi (Pertamax dan Dexlite) yang juga dapat berdampak pada kenaikan harga biaya angkutan darat. Efektif terhitung tanggal 1 Juli 2018 terdampak perbaikan harga minyak dunia yang mencapai rekor tertinggi pada akhir Juni 2018 sejak tahun 2014," jelasnya.

Selain itu ada juga pengaruh dari melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada potensi kenaikan harga barang impor, potensi kenaikan harga komoditas keperluan sekolah anak menjelang tahun aja baru, serta dampak kenaikan harga Dexlite terhadap peningkatan biaya angkutan komoditas strategis. (TESTI PRISCILLA/B-5)