JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perusahaan perkebunan yang berbasis di Singapura, Wilmar International, menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat komitmen atas kebijakan perusahaan yang tidak melakukan deforestasi, menggarap lahan gambut dan eksploitasi hutan (NDPE).

Pernyataan itu diungkapkan Wilmar menyusul mundurnya salah satu pendiri perusahaan, Martua Sitorus, beserta pimpinan Wilmar di Indonesia, Hendri Saksti, yang notabene adalah ipar Martua. Keduanya mundur setelah diduga terkait dengan aksi deforestasi dari perusahaan perkebunan yang mereka miliki, yakni Gama Plantation, di Indonesia.  

Wilmar menyatakan pihaknya beroperasi secara terpisah dari Gama Plantation, perusahaan yang dituding Greenpeace International menyebabkan deforestasi masif di Indonesia. 

“Wilmar tidak memiliki kendali, manajemen atau lainnya di Gama Corp. Para eksekutif Wilmar yang memiliki hubungan keluarga dengan Gama Corp tidak memiliki kewenangan membuat keputusan atau pengaruh terhadap kebijakan berkelanjutan Wilmar,” kata seorang juru bicarta Wilmar seperti dikutip The Edge Singapore.

Gama Corp adalah perusahaan yang dimiliki Martua Sitorus, dan saudaranya, Ganda. Saksti adalah ipar Martua.

--page

Dalam email kepada The Edge Singapore medio pekan ini, Wilmar mengatakan CEO Kuok Khoon Hong kembali secara tertulis mengatakan kepada Greenpeace bahwa mereka akan menangani kekhawatiran terhadap rantai pasok yang berkelanjutan dan merinci tindakan selanjutnya dalam memperkuat penerapan Kebijakan NDPE.

Upaya tersebut termasuk menerbitkan peta konsesi dari para pemasok, bekerjasama dengan para pemangku kepentingan terhadap upaya perlindungan dan rehabilitasi hutan di area konsesi.

Wilmar menambahkan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan Greenpeace untuk mengatasi berbagai isu yang muncul dalam pemberitaan belakangan ini.

Menurut Wilmar, mereka juga telah mengurangi pasokan dari para pemasok yang disebutkan terkait dengan Gama per 20 Juni 2018.

Adapun tiga perusahaan yang disebut oleh Greenpeace terkait dengan deforestasi adalah PT Graha Agro Nusantara, PT Agrinusa Persada Mulia dan PT Agriprima Cipta Persada. Ketiganya diketahui bukan pemasok Wilmar. (NEDELYA RAMADHANI/m)