BORNEONEWS, Sampit - Aksi balapan liar (bali) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian marak. Kegiatan ilegal itu kerap kali dilakukan pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari.
Dari pantauan Borneonews di lapangan, Minggu (8/7/2018) dini hari tadi, aksi balapan tersebut berlangsung seru layaknya pembalap profesional.
Namun para pembalap liar tidak mengenakan perlengkapan standar balapan, seperti baju balap, helm, sarung tangan, sepatu dan pelindung lutut.
Mereka hanya mengenakan helm dan ada beberapa yang tidak menggunakannya.
Persimpangan jalan HM Arsyad dan Ahmad Yani, Kecamatan MB Ketapang dijadikan sirkuit balapan ilegal. Bukan hanya mengancam keselamatan para pembalap itu sendiri, aksi tersebut juga kerap kali membuat pengguna jalan lainnya merasa ketakutan.
--page
Aksi tidak resmi itu menjadi hiburan tersendiri bagi penikmatnya. Kebanyakan penontonnya adalah kalangan pemuda bahkan anak yang masih di bawah umur.
Menurut salah seorang penonton, Ajay, mengatakan tidak pernah ketinggalan menyaksikan aksi terbilang ekstrim itu, hingga ia rela membuang waktu tidur malam.
"Saya selalu nonton bali disini, bersama teman-teman saya," ucap remaja berumur 14 tahun itu, Minggu (8/7/2018) dini hari.
Sensasi menegangkan selalu dirasa ketika melihat para pembalap melewati tikungan. Sebab, disaat menikung, tak ayal membuat para pembalap berjatuhan. Bahkan ada pembalap yang kehilangan keseimbangan dan menabrak trotoar.
Aksi balapan tersebut kadang berujung ricuh lantaran sang pembalap saling bersenggolan satu dengan lainnya. Seperti yang terjadi pada Minggu dini hari tadi, setelah balapan selesai, para pembalap yang bersenggolan sempat bertengkar. Mereka berkelahi menggunakan kayu.
--page
Balapan tersebut tidak memperebutkan hadiah rupiah ataupun benda lainnya, melainkan gengsi dan dikenal nama nya oleh para penikmat bali.
"Tidak ada hadiahnya. Katanya, mereka hanya taruhan harga. Gengsi-gengsian saja. Biasanya balapan bubar jam 3 pagi. Namun kadang jam 1 dini hari sudah berhenti, itu juga karena ada polisi yang datang dan berjaga. Jika polisi tidak berjaga, maka balapan dilanjutkan kembali," jelas Ajay.
Banyak pengguna jalan yang resah akan aksi balapan ditengah kota Sampit itu. Terkadang pengguna jalan mengehentikan kendaraannya di tengah persimpangan jalan tersebut dengan maksud ingin menghentikan kegiatan ilegal itu.
"Memang awalnya berhenti. Saat kendaraan orang lain sudah tidak ada lagi ditengah jalan, maka balapan dilanjutkan kembali," tutur Ajay.
Terpisah, Jimmy yang merupakan warga Sampit mengaku pernah menegur para pembalap liar agar menghentikan aksinya. Bukannya ditanggapi dengan baik, para pembalap liar itu malah mengusir dirinya dengan kata-kata yang tinggi dan bahkan ada yang hendak memukuli dirinya.
"Kadang saya informasikan langsung ke aparat kepolisian. Nampaknya hukuman yang diberikan oleh petugas Satlantas Polres Kotim untuk para pembalap yang tertangkap tidaklah membuahkan hasil," lanjutnya.
--page
Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Sampit itu meminta agar pihak kepolisian setempat dapat menertibkan kegiatan ilegal yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat itu.
"Semoga aparat hukum dapat menindak para pelaku balap liar itu dengan tegas. Kalo perlu dipenjara saja, agar mereka jera dan tidak mengulanginya lagi," tutur Mahasiswa semester 4 pendidikan ekonomi itu. (ACHMAD SYIHABUDDIN/B-5)








