JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski ada secercah harapan bagi minyak sawit untuk tidak mendapatkan diskriminasi di Uni Eropa (UE), tapi zona pengguna mata uang euro itu tetap menyoroti aspek keberlanjutan dari komoditas ini.

Memang benar, sejumlah konsumen dan industri di UE tetap menuntut produk minyak sawit yang masuk ke zona tersebut harus terbebas dari praktik-praktif bisnis yang merusak lingkungan. Bila semua itu terpenuhi, maka diharapkan tak ada lagi sikap diskriminatif terhadap minyak sawit.

Pada awal tahun ini, Parlemen Eropa telah melakukan pemungutan suara yang menghasilkan sikap melarang pemakaian minyak sawit sebagai bahan baku produksi biofuel di UE pada 2021 mendatang.

Sejak keputusan itu, beberapa negara anggota UE melakukan pendekatan dengan Parlemen Eropa untuk mengkaji kembali rencana pelarangan itu. Salah satunya adalah Perancis yang menginginkan renegosiasi di kalangan anggota Parlemen Eropa untuk menyikapi keberatan yang disuarakan produsen minyak sawit, terutama Indonesia dan Malaysia.

Duta Besar Perancis untuk Malaysia, Frédéric Laplanche, menyatakan bahwa pemerintahnya telah berjanji untuk mendesak dilakukannya renegosiasi di Parlemen Eropa, dengan harapan dapat dilahirkan kebijakan yang tidak diskriminatif terhadap minyak sawit atau minyak nabati jenis lain yang akan digunakan sebagai bahan baku biodiesel.

--page

“Minyak sawit merupakan isu penting, dan Perancis sadar bahwa ini merupakan komoditas penting dan menjadi bagian dari mesin penggerak perekonomian," kata Laplanche seperti dikutip The Borneo Post.

“Kami (Pemerintah Perancis) tidak menginginkan pelarangan apapun terhadap minyak sawit. Dan sekitar tiga pekan lalu, melalui pembahasan internal dengan Parlemen Eropa, kami telah mencapai konsensus untuk menghilangkan kebijakan-kebijakan diskriminatif terhadap minyak sawit," imbuhnya.

Menurut dia, kunci sukses bagi terbebasnya minyak sawit dari kebijakan diskriminatif adalah tetap mengedepankan praktik berkelanjutan terhadap komoditas ini, mulai dari saat penanaman hingga produksinya.   

Dukungan Perancis terhadap minyak sawit juga terlihat bulan lalu ketika pemerintah negeri itu memberikan lampu hijau bagi pembangunan pabrik pengilangan baru, yang akan digunakan untuk memproduksi biofuel. (NEDELYA RAMADHANI/m)