JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Apa yang disebutkan sejumlah analis bahwa ada peluang di pasar China bagi komoditas sawit Indonesia menyusul sengitnya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, kini mulai terbukti.

Apalagi China termasuk pasar ekspor besar selain India dan Uni Eropa untuk ekspor komoditas minyak sawit nasional. Dengan penerapan tarif terhadap produk pertanian AS ke China, termasuk minyak kedelai, menjadikan minyak sawit dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati negeri itu.

Pada medio pekan ini, pihak Indonesia menandatangani kerjasama kontrak pembelian minyak sawit dan turunanya dengan beberapa pengusaha China, dengan nilai kontrak mencapai US$726 juta, untuk periode satu tahun ke depan.

Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun, yang turut menjadi pembicara dalam seminar tentang Perdagangan dan Promosi Minyak Kelapa Sawit di Nanjing, Ibu Kota Provinsi Jiangsu.

Kerjasama terbaru ini juga didasarkan atas kondisi bahwa kebutuhan dan permintaan kelapa sawit yang kian meningkat dari China dapat dipenuhi Indonesia, sehingga pengusaha negeri itu dapat mempercayai kemampuan akan kualitas serta kuantitas produk kelapa sawit dan turunannya.

--page

Sedangkan Ketua Umum China Chamber of Commerce of Import and Export of Foodstuffs, Native, Produce and Animal by Products (CFNA), Bian Zhen Hu, menyampaikan bahwa promosi produk kelapa sawit harus tetap dipertahankan agar produk kelapa sawit Indonesia memiliki reputasi yang baik dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakt China.     

Bahkan pihaknya bersedia menjembatani para pengusaha kedua negara untuk meningkatkan hubungan perdagangan.

Permintaan minyak sawit Indonesia di China terus meningkat, dengan nilai impor pada 2017 mencapai US$2,21 miliar, sedangkan pada 2016 hanya US$1,67 miliar.  (NEDELYA RAMADHANI/m)