PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pihak yang mengklaim tanah seluas 7500 M2 di kompleks Perumaan Akasia Jalan Bhayangkara Desa Pasir Panjang atas nama Yumnah Asmad adalah Mardin, keluarga Yumnah. Ternyata, dia justru ragu menunjukkan lokasi tanahnya.

Keraguan itu ditunjukkan Mardin saat warga Akasia, Mardin dan petugas

Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional(BPN) Kobar melakukan pengukuran tanah dan menentukan dimana sebenarnya tanah milik Mardin, Kamis (12/7/2018).

Pengukuran tanah itu dilakukan karena warga resah menduga tanah milik mereka tumpang tindih.  

"Awalnya Pak Mardin ragu saat diminta menunjukkan lokasi tanahnya dimana. Tapi bila mengira-ngira, katanya bisa. Perlu dicatat, hanya mengira-ngira," jelas Guna Pramana Yudha, warga Akasia yang kembali mendatangi kantor ATR/BPN Kobar siang harinya.

Karena itulah usai pengukuran tersebut, ia dan beberapa warga Akasia merasa ada kejanggalan.

--page

"Bagaimana bisa Pak mardin sendiri tidak tahu tanahnya dimana, kok bisa BPN mengatakan ini sudah diploting oleh Pak Mardin. Sedangkan orangnya (Mardin) sendiri ragu saat diminta menunjukkan lokasi tanahnya. Karena sesuai garis kuning pada gambar yang menunjukkan tanah terindikasi sertifikat ganda tersebut menurut pihak BPN di ploting oleh Pak Mardin," jelas Yudha.

Selain itu, pascapengukuran, beberapa warga kembali resah lantaran ada rumah milik warga yang sebelumnya tidak masuk ploting 7500 M2, usai pengukuran tiba-tiba masuk dalam tanah ploting.

Bahkan, warga juga menunjukkan gambar tanah yang menurut warga didapatkan oleh pihak BPN. Warga tersebut mengatakan bahwa sesuai gambar sebelumnya, rumah dan tanahnya tidak masuk ploting 7500 M2 tersebut, namun beberapa jam usai pengukuran, ternyata rumahnya masuk dalam bagian lahan yang diduga tumpang tindih.

Warga tersebut kemudian menanyakan pada Kasi Sengketa Kementerian ATR/BPN Kobar Dodi Prasetyo Aji kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Atas pertanyaan tersebut, Dodi menjawab bahwa data-data yang didapatkan dari hasil pengukuran pagi harinya itu masih dalam pengolahan.

--page

"Saya heran, dari mana warga bisa mendapatkan gambar tersebut. Saat diminta menunjukkan siapa yang memberikan data, warga juga keberatan," jelas Dodi.

Atas pertanyaan Dodi tersebut, warga menjawab ini adalah upaya mereka untuk mencari kejelasan, lantaran ada beberapa warga yang sudah setahun lebih mengurus ploting tanah miliknya namun tidak kunjung selesai.

"Setelah lokasi tanah yang diduga tumpang tindih tersebut diukur maka saat ini sedang kami olah data-datanya. Namun ternyata data yang kami olah tadi bocor. Entah siapa yang membocorkan.  Dari data gambar yang dipegang oleh warga akasia tadi diduga ada keterlibatan orang dalam atau oknum BPN yang nakal. Saya menduga juga ada keterlibatan oknum atau orang dalam dari pihak Pak Mardin dalam permasalahan ini," jelas Dodi.

Intinya, lanjut Dodi,  ia merasa keberatan atas adanya hal itu, lantaran data tersebut adalah data internal mereka.

Saat ditanyakan apa upaya selanjutnya untuk penyelesaian masalah usai pengukuran dilakukan menurut Dodi, pihaknya masih akan melakukan pengolahan data.

--page

"Data - data lama atau warkah pemilik lahan yang masuk dalam tanah diduga tumpang tindih itu masih dalam proses pengumpulan," jelas Dodi. (WAHYU KRIDA/B-2)