BORNEONEWS, Palangka Raya - Musim hujan diselingi dengan panas kemarau, kemudian hujan lagi menjadi musim yang sangat pas untuk kulat bantilung tumbuh. Kulat merupakan sebutan jamur dalam Bahasa Dayak dan bantilung adalah salah satu jenis jamur hutan Kalimantan.
Kulat bantilung memang selalu jadi rebutan masyarakat Dayak karena selain rasanya yang enak, jamur ini juga hanya ada musiman sehingga sulit didapatkan di musim selain seperti saat ini.
"Bisa aja satu kilonya Rp25.000, kalau beli setengah kilo Rp15.000," kata Runa, salah seorang penjual kulat bantilung di Pasar PU, Palangka Raya, Minggu (15/7/2018).
Menurut Runa dalam sehari dirinya mampu menjual hingga 10 kilogram kulat bantilung. Terkadang malah menurutnya dirinya kekurangan stok karena tingginya permintaan.
"Kadang ada yang kehabisan. Kita kan tidak bisa memastikan juga bisa menyediakan berapa dalam sehari karena namanya kulat ini hasil hutan jadi tergantung persediaan hutan," jelasnya.
--page
Karena terbatasnya ketersediaan, tidak heran jika saat ini masyarakat berebut untuk membeli kulat bantilung dari masyarakat lainnya yang bisa mencarinya di hutan. Jamur ini memang tumbuh liar di hutan, karenanya sangat alami karena tidak dibudidayakan. (TESTI PRISCILLA/B-5)








