BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Produktivitas kelapa sawit tak hanya bergantung pada usia tanaman dan proses perawatan, tapi juga tindakan dalam mengantisipasi serangan hama.
Industri minyak sawit memiliki andil yang signifikan dalam pengembangan ekonomi daerah dan nasional serta pengentasan kemiskinan di berbagai pelosok negeri, namun faktor pembatas produksi khususnya serangan hama acapkali menjadi kendala di lapangan.
"Tantangan yang dihadapi oleh industri agribisnis seperti kelapa sawit salah satunya adalah hama. Hama mengganggu proses pertumbuhan tanaman sehingga produktivitas kelapa sawit menjadi turun," kata Vice President of Sustainability PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Bandung Sahari, di Jakarta, Selasa (17/7).
Apabila tidak segera ditangani dengan baik, menurut Sahari, maka dalam jangka panjang akan mengancam keberlanjutan produktivitas minyak sawit dan lingkungan jika pestisida menjadi pilihan utama. Untuk itu, penelitian yang menunjang pengendalian hama ramah lingkungan menjadi mendesak.
"Proses polinasi (penyerbukan) pada kelapa sawit juga sangat bergantung dengan serangga. Tidak efektifnya penyerbukan menyebabkan banyaknya buah partenokarpi (tidak berbiji) dengan kandungan minyak yang rendah," papar dia.
Sedangkan Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Damayanti Buchori mengatakan, dari penelitian global, serangga polinator sedang mengalami penurunan populasi global. Penelitian itu juga mengungkap bahwa penurunan populasi serangga penyerbuk akan berdampak pada pangan, termasuk juga tanaman kelapa sawit.
"Ketidakadaan serangga penyerbuk bisa menjadi masalah yang berat bagi tanaman kelapa sawit. Hal ini juga perlu menjadi perhatian serius stakeholder industri kelapa sawit," ujarnya.
Penelitian mengenai serangga pada industri kelapa sawit saat ini masih sangat sedikit. Saat ini, Malaysia terdepan dalam penelitian tentang serangga pada kelapa sawit.
Indonesia masih banyak menggunakan penelitian-penelitian dari Malaysia. (NEDELYA RAMADHANI/m)








