BORNEONEWS, Sampit - Banyak masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengecam sejumlah oknum pembakar lahan. Ini karena mereka tidak ingin menjadi korban keganasan bencana kabut asap seperti tahun-tahun yang lalu.
"Bukan hanya pemerintah saja yang marah terhadap pembakar lahan itu, kami juga sangat terganggu adanya pembakaran lahan oleh oknum tersebut. Karena dampaknya sangat besar," ujar Muhar Tri Santoso, warga Mentawa Baru Ketapang, Kotim, Kamis (19/7/2018).
Dampak kebakaran lahan dinilai tersebut sangat banyak negatifnya. Terutama terhadap kesehatan, apalagi mengalami kabut asap. Sehingga bisa mengganggu seluruh sektor di daerah ini. Seperti transportasi udara, laut, bahkan darat. Tidak hanya itu, banyak juga warga yang terserang penyakit akibat pernapasan terganggu.
"Kami tidak ingin lagi kabut asap pekat seperti pada 2015 lalu terulang kembali. Karena dampaknya sangat besar terhadap daerah ini," kata Muhar.
Pihaknya sebagai masyarakat sangat tidak senang dengan oknum pembakar lahan tersebut. Dan meminta kepada aparat penegak hukum untuk terus berupaya menangkap para pelakunya. Sehingga ada efek jera, dan bisa membuat sejumlah orang takut untuk melakukan hal yang sama.
--page
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim Satgas Karhutla terus berupaya memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan dibakar. Mereka juga melakukan patroli di sejumlah tempat atau titik rawan kejadian Karhutla.
"Kami saat ini terus melakukan patroli untuk memantau titik rawan karhutla, hal itu dilakukan agar dapat sedini mungkin di atasi kalau terjadi kebakaran," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim M Yusup.
Dalam beberapa hari terkahir, cukup banyak kasus kebakaran lahan yang terjadi di Kotim, terutam di Kota Sampit. Bahkan sudah mencapai 10 kejadian lebih. Dan pihak pemerintahpun terus berupaya melakukan antisipasi agar tidak terjadi kembali karhutla di Kotim ini. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








