BORNEONEWS, Sampit - Warga dua kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yakni Kecamatan Baamang dan Kecamatan Seranau, mengeluhkan persoalan rotan dan karet.
Hal itu terungkap saat anggota DPRD Kotim Dadang H Syamsu menggelar reses perseorangan di daerah itu.
Bahkan, menurut Dadang, warga menuding Pemkab Kotim tutup mata dengan persoalan rotan dan karet yang sejak lama terjadi. "Warga mendesak pemerintah untuk memperbaiki kondisi harga rotan dan karet saat ini," kata Dadang, Minggu (22/7/2018)
Ia mengatakan, saat datang ke beberapa desa mayoritas keluhan kepada pemerintah itu soal harga komoditas karet dan rotan yang tidak pernah ada penyelesaian dari pemerintah, baik itu pemerintah daerah hingga kepada pemerintah pusat.
--page
Karena, lanjut Dadang, rata-rata warga bergantung di sektor itu sehingga ia menilai pemerintah selama ini memang belum memberikan solusi dan tidak pernah hadir bagi petani karet dan rotan.
Dia memaklumi alasan kenapa banyak warga yang mengkritik hal tersebut, lantaran Kecamatan Baamang dan Seranau kebanyakan pekerja di sektor itu. "Terutama di sejumlah desa seberang dan di daerah Baamang Hulu sampai ke Desa Terantang dan Tinduk," tandas Dadang.
Dari data yang ia sampaikan, untuk dua Kecamatan itu saja jumlah pekerja rotan dan karet sekitar 5.000 orang. Artinya, dari 5.000 orang ini ada keluarga yang bergantung di sektor itu. Dari itu, ia mendorong agar ada solusi dari Pemkab Kotim. (NACO/B-2)








