BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah tidak membantu kenaikan kinerja ekspor minyak kelapa sawit (CPO).
"Pelemahan permintaan yang disertai penurunan harga jual sawit dunia telah memberi tekanan lebih besar terhadap kinerja industri sawit sepanjang semester I lalu. Dampak penguatan dolar AS belum terasa, biaya pengiriman juga ikut naik," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, akhir pekan lalu.
Mukti mengatakan, stok minyak nabati yang melimpah telah menyebabkan harga sawit melemah, ditambah lagi dengan Amerika Serikat yang sudah mulai panen kedelai dan Uni Eropa yang mulai banyak memproduksi rape seed dan sunflower.
"Tak mau ketinggalan, Tiongkok sebagai negara produsen minyak nabati, mulai menyimpan pasokan untuk mengantisipasi dampak perang dagang," papar dia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor minyak nabati semester pertama 2018 sebesar 14,2 juta ton, turun 5,99% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan volume 15,1 juta ton. Sementara, nilai ekspornya juga anjlok 14,08% dari US$11,4 miliar menjadi US$9,87 miliar.
--page
Pelaku usaha kelapa sawit, lanjut Mukti, berharap musim dingin di AS dan Uni-Eropa pada semester kedua dapat memacu peningkatan permintaan komoditas sawit. Dengan begitu, harga jual sawit diharapkan bisa ikut membaik dan ekspor turut meningkat.
"Mudah-mudahan harga tidak turun sampai di bawah US$600 per ton seperti 2015," ujar Mukti.
Selain itu, serapan minyak sawit juga diharapkan terus meningkat sejalan dengan program penggunaan biodiesel dalam negeri, termasuk dalam program perluasan penggunaan biodiesel untuk sektor non-Public Service Obligation (PSO).
Untuk ekspor ke Tiongkok, GAPKI berharap langkah diplomasi pemerintah diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor, seperti perjanjian dengan Tiongkok terkait impor sekitar 500.000 ton CPO dari Indonesia.
Berdasarkan data GAPKI, ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017, di luar ekspor biodiesel dan oleochemical, tercatat tumbuh 23,6% menjadi 31,05 juta ton dari 25,11 juta ton pada 2016. Sementara nilai ekspor minyak sawit pada 2017 mencapai US$22,97 miliar, meningkat 26% dibandingkan 2016 sebesar US$18,22 miliar. (NEDELYA RAMADHANI/m)








