JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) masih harus berhadapan dengan sejumlah tantangan bisnis seperti terhambatnya ekspor crude palm oil (CPO) ke kawasan Uni Eropa serta sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat dan India. 

"Hal tersebut diperkirakan dapat mengurangi permintaan CPO milik AALI. Rendahnya permintaan berpotensi membuat harga CPO di pasar sulit mengalami kenaikan, padahal kinerja AALI tahun ini sangat bergantung pada kestabilan harga CPO," kata analis NH Korindo Sekuritas, Joni Wintarja, dalam risetnya.

Di sisi lain, analis senior Henan Putihrai, Yosua Zisokhi, menilai permintaan terhadap CPO diprediksi tetap solid. Pasalnya, negara-negara yang membatasi impor CPO dari Indonesia tidak bisa terus-terusan memanfaatkan bahan bakar nabati lain, seperti minyak kedelai atau minyak bunga matahari, terutama ketika masa panennya berakhir.

"Dengan begitu AALI mendapat kesempatan untuk menjual CPO miliknya," papar Yosua.

Di samping itu, potensi terjadinya La Nina atau fenomena yang menurunkan temperatur air laut sehingga terjadi hujan berkepanjangan juga menjadi tantangan bagi AALI pada tahun ini. Namun, Yosua menganggap sistem irigasi yang terdapat di lahan-lahan milik AALI sudah cukup mumpuni untuk menghadapi cuaca buruk. 

--page

"Terlebih lagi, kelapa sawit milik emiten ini bukan ditanam di lahan gambut yang mudah mengalami penurunan kualitas jika curah hujan tinggi," ujarnya.

Joni memperkirakan penjualan AALI akan tumbuh 14,3% menjadi Rp19,77 triliun pada akhir tahun nanti, sedangkan laba bersihnya naik 11,3% menjadi Rp2,23 triliun.

Baik Yosua dan Joni sama-sama merekomendasikan beli untuk saham AALI. (NEDELYA RAMADHANI/m)