JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), MP Tumanggor, sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang akan mendorong penerapan program penggunaan bauran minyak sawit dalam solar sebesar 20% (B20) untuk sektor non PSO. 

"Dengan begitu, serapan CPO akan meningkat. Kita siap mendukung dan memasoknya," kata Tumanggor di Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Untuk diketahui, dalam rapat terbatas yang digelar akhir pekan lalu, Presiden Joko Widodo mendorong jajarannya untuk terus mengoptimalkan penggunaan biodiesel dan energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional. 

Untuk itu, Presiden meminta campuran biodiesel dalam BBM ditingkatkan, sehingga bisa menghemat devisa untuk impor minyak mentah atau BBM.

"Saya mendapatkan informasi bahwa setiap hari kalau ini bisa kita lakukan kita akan hemat kurang lebih US$21 juta per hari. Kalau betul-betul ini bisa kita laksanakan," papar Tumanggor.

--page

Adapun rencana pengembangan jangka menengah setelah program mandatori B20 untuk PSO dan non-PSO adalah untuk mendorong industri biofuel 100%.

Sementara itu, pemerintah saat ini masih mengkaji penerapan kewajiban penggunaan biodiesel 30% (B30), seraya fokus untuk memperluas penggunaan biodiesel 20% (B20).  

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi [EBTKE] Kementerian ESDM Rida Mulyana menyatakan pemerintah masih membahas mengenai penggunaan kandungan biodiesel sebesar 20% dalam BBM (B20), sedangkan untuk biodiesel 30% (B30) masih dalam pengkajian.

"Fokus saat ini baru biodiesel 20% saja dan itu yang akan jalan terlebih dulu," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Untuk B20, menurut Rida, pihaknya akan memperluas penggunaannya untuk BBM non-Public Service Obligation (PSO). 

--page

"Suratnya nunggu dulu Peraturan Presiden (Perpres) direvisi. Revisi Perpresnya dipercepat besok atau lusa," papar dia.

Sedangkan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengaku siap menjawab kebutuhan pemerintah untuk mandatori B30.

"Kami sudah siap biodiesel 20% dan memang kami sudah mempersiapkan untuk biodiesel 30%. Hanya saja, memang ada beberapa perusahaan yang harus ditingkatkan utilitasnya," ujarnya.

Menurutnya, saat ini anggota Aprobi telah memiliki 20 pabrik produsen biodiesel dengan total produksi mencapai 2,6 juta kilo liter per tahun. Adapun, kapasitas produksinya bisa mencapai 12 juta kilo liter/tahun. (NEDELYA RAMADHANI/m)