PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ternyata terjadinya gerhana bulan pada 28 Juli 2018 memiliki asosiasi dengan fenomena serupa yang terjadi pada 2000 dan pada 2036 mendatang.

Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Iskandar, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rangga Setya Pratama, Rabu (25/7/2018) menjelaskan mengenai fenomena tersebut.

"Gerhana bulan total yang terjadi 28 Juli 2018 ini merupakan anggota ke-38 dari 71 anggota pada seri Saros 129.

Gerhana bulan sebelumnya yang berasosiasi dengan gerhana ini adalah gerhana bulan total  yang terjadi 16 Juli 2000," jelas Rangga.

Menurutnya, fenomena  gerhana bulan yang akan datang yang berasosiasi dengan gerhana bulan tanggal 28 Juli 2018 ini adalah gerhana bulan total yang nantinya terjadi tanggal  7 Agustus 2036.

"Semua gerhana bulan dalam seri Saros 129 terjadi saat bulan bergerak ke arah selatan ekliptika bumi atau jalur yang dilalui oleh bulan dalam mengelilingi suatu titik pusat sistem koordinat tertentu yabg dalam hal ini adalah bumi," jelasnya.

--page

Karena itulah fase totalitas Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018, yang mencapai 103 menit, adalah yang terlama hingga lebih dari seratus tahun ke depan. 

"Fase totalitas gerhana bulan yang lebih lama dari Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 adalah Gerhana Bulan Total 9 Juni 2123, yaitu yang mencapai 106 menit. Sayangnya gerhana ini tidak akan teramati dari Indonesia," jelasnya

Walau demikian, fenomena Gerhana Bulan dengan fase totalitas yang lebih lama dari Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 dan dapat diamati dari Indonesia.

"Fenomena gerhana bulan total tersebut bakal  terjadi  19 Juni 2141 dengan fase totalitas gerhana mencapai 106 menit," tandasnya. (YUDA/B-6)