JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tren pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) membuat dua produsen minyak sawit terbesar dunia, yakni Indonesia dan Malaysia, mencari cara untuk menjaga stabilitas atau mendongkrak harga komoditas tersebut.

Untuk program biodiesel berbasis minyak sawit, Malaysia memang masih jauh tertinggal dari Indonesia, terutama penerapan mandatori penggunaan biofuel berbahan campuran minyak sawit. Namun, negeri jiran tersebut belum mampu menerapkan mandatori untuk pemakaian biodiesel, meski dengan campuran hanya 10% (B10).

Menurut sejumlah pengamat industri, kini saatnya bagi Malaysia untuk kembali mengaktifkan kebijakan mandatori biodiesel B10, seiring dengan melebarnya spread harga antara CPO dengan minyak mentah Brent dan harga diesel.

Perkembangan terakhir menjadikan percepatan implementasi program B10 menjadi solusi yang layak di sektor transportasi. 

CPO, yang kini diperdagangkan di bawah RM2.200 per ton, menjadi bahan baku utama untuk memproduksi biofuel atau biodiesel.

--page

Seorang pelaku pasar menyatakan bahwa pemerintah Malaysia harus serius soal implementasi biodiesel B10, karena program ini dapat menyerap hingga 750.000 ton minyak sawit per tahun, yang berguna untuk mengurangi penumpukan stok CPO.

Di Indonesia, penerapan program biodiesel sudah mencapai B20, yang kini akan diperluas pemakaiannya untuk sektor non-PSO, terutama untuk transportasi umum dan mobil pribadi.  (NEDELYA RAMADHANI/m)